Yuni & Toeti: Kisah Belenggu Perempuan di Dua Zaman


  • Monday, 20 June 2022 09:00
  • Artikel
  • 0 Berkas di unduh
  • 181x dibaca.

Oleh: Muhammad Naziful Haq

Otonomi tubuh dan keputusan hidup perempuan adalah dua hal yang sampai saat ini masih mengalami represi signifikan, baik oleh faktor-faktor didekatnya seperti kehendak orang tua, ataupun oleh faktor-faktor tak kasat mata seperti perkembangan budaya ataupun infrastruktur di tempat ia tinggal. Film Yuni, misalnya, menggambarkan bagaimana faktor-faktor itu tidak hanya saling kelindan satu sama lain, tetapi juga terinstitusionalisasikan.

Film Yuni (2021) bercerita tentang siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita melanjutkan kuliah. Namun, dua laki-laki melamarnya, menyebabkan dinamika konflik nilai dan kepercayaan, antara kehendak diri, otonomi perempuan, kepercayaan lokal, konstruk sosial dan tekanan dari masyarakat sekitar dan doktrin pendidikan di sekolah.

Yuni tinggal di Serang, Banten, bersama neneknya. Ayah dan ibu Yuni merantau di Jakarta. Warga sekitar, khususnya ibu-ibu seusia neneknya, memandang sakral nilai keperawanan, kepatuhan perempuan, dan keutamaan trinitas feminin lama (dapur, sumur Kasur).

Nilai-nilai itu tereproduksi dan terlestarikan lewat keyakinan-keyakinan lokal seperti misalnya: “kalau gadis duduk di depan pintu maka akan susah jodoh”; “lamaran adalah hal yang baik. Menolak lamaran sama halnya dengan menolak rezeki”. Ataupun dalam bentuk stigma, seperti “anak sekarang masih mikir cocok gak cocok, Urang [kita] dulu kalau ga cocok ya dicocok-cocokin. Nurut”.

Film ini menyuguhkan kita pemandang Serang ‘urban-industrialis’. Pabrik, jalan kampung berdebu, warung kecil berdinding triplek, salon kecantikan dengan warna mencolok, lengkap dengan jejaring dan orientasi sosial khas di dalamnya.

Suci Cute, sahabat Yuni yang dikenalnya ketika membeli es di warung dekat pabrik, adalah korban pembangunan. Suci tersisih dari pembangunan sampai tidak ada pilihan lain selain pekerjaan warungan dan membuka salon di pasar.

Iman, lelaki pertama yang melamar Yuni, adalah mandor Semarang yang pindah kerja di salah satu pabrik di Serang, menjadi wujud kesuksesan tertentu di mata warga kampung kota. Bagi ibu-ibu kampung, Iman termasuk ‘mantu idaman’.

Sahabat Yuni, Siti, nikah muda. Ia memiliki anak dan tinggal satu rumah bersama kakak adiknya. Mereka saling bagi tugas. Ada yang merawat anak, membungkus kerupuk, dan menyapu rumah.

Yoga, adik kelas Yuni yang piawai berpuisi, yang kelak diajak Yuni melakukan seks untuk menggugurkan lamaran Iman, menyimpan keinginan kabur dari rumah. Ia sadar kalau rumahnya tidak akan lama lagi digusur pabrik.

Sekolah sebagai institusi sosial pun digambarkan menawarkan pandangan yang tidak jauh berbeda. Ibu Lies, seorang guru yang selalu mendukung dan membina Yuni, mendapat nasihat dari kepala sekolah (kepsek), bahwa jangan menanamkan anak didik dengan ambisi-ambisi besar, seperti kuliah dan beasiswa misalnya. Pak Kepsek ingin kalau Ibu Lies menyadari, bahwa sekolahnya adalah sekolah kecil dan banyak wali murid yang lebih ingin anaknya menikah daripada kuliah.

Gambaran-gambaran tersebut menyiratkan, bahwa hambatan pada otonomi dan kedaulatan diri perempuan muncul dari faktor material seperti pembangunan wilayah ataupun faktor non-material seperti budaya dan keyakinan lokal, yang keduanya, sedikit banyak melahirkan implikasi-implikasi dan hambatan-hambatan lanjutan dengan aneka bentuk.

Ketika cita-cita, otonomi, dan kedaulatan diri Yuni hendak terenggut oleh lamaran dan tekanan sosial di sekitarnya, Yuni menyadari kalau ‘seks’ punya cukup kekuatan untuk menggugurkan belenggu tersebut. Meninjau baik-buruk keputusan Yuni dalam kacamata moral adalah hal lain, tetapi hal penting di sini adalah, bahwa kondisi material dan non-material yang sedemikian tak berpihak pada kemajuan perempuan dapat melahirkan, tidak hanya keputusan yang berani, melainkan juga paradoks yang sering disangkal.

Keyakinan-keyakinan tertentu soal rumah tangga di kalangan ibu-ibu dalam film tersebut misalnya, mendapat kontradiksi mendasar dari potret kehidupan sahabat karib Yuni yang nikah muda. Ia harus mengalami kekerasan rumah tangga karena masalah ekonomi yang nominalnya tidak besar, di tengah tuntutan merawat bayi, tugas domestik, dan menghidupi kakak-adiknya berjejal di rumah sepetak.

Di akhir film, ketika Yuni benar-benar sepenuhnya terpukul oleh aneka cobaan domestik dan kultural, Ibu Lies, mengatakan “kamu tidak bisa menyalahkan orang lain Yun. Ibu tau ini sulit.” Figur yang selama ini digambarkan selalu mendukung Yuni pada perubahan yang lebih baik, ternyata luput melihat bahwa nasib dan kemajuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemauan diri, tapi juga oleh kesempatan dan keberpihakan struktural di ruang hidupnya.

Akan tetapi, Yuni bukan satu-satunya korban struktural. Sekitar kurang lebih 1 abad lalu, Yuni memiliki ‘inkarnasi’ serupa yang bernama Nyi Raden Toeti, seorang tokoh fiksi dalam cerpen Permata Sedjati karya Emod Nata Soekarja, kepala redaktur divisi translasi, Dinas Bacaan Rakyat Hindia-Belanda tahun 1931.

Nyi Raden Toeti adalah putri priyayi Serang, Raden Soelaiman. Seorang siswa OSVIA (sekolah Belanda setara perguruan tinggi) bernama Soera Atmadja jatuh cinta padanya saat ayah Toeti menyelenggarakan pesta terang bulan di rumahnya. Kisah sejoli Toeti dan Soera berjalan sebagaimana pantun dalam pembukaan cerita ini:

Aoer ditanam betoeng toemboeh,

Toembuh diparak Sigoemanti.

Asal hati sama soenggoeh,

Kering lautan kita nanti.

Padma, putra dari sahabat Raden Soelaiman, Hadji Satia, tak tahan ingin menikah. Rupanya, Toetilah yang jadi impian Padma. Hadji Satia langsung mengirim surat ke Raden Soelaiman. Nasib asmara Toeti di ujung tanduk.

Ibu Toeti melihat kalau Toeti seyogyanya menikah dengan sesama kalangan priyayi. Pernikahan antara priyayi dan pemilik modal (tuan tanah ataupun saudagar) adalah aib bagi keluarga priyayi. Priyayi pantang melihat harta. Ibu Toeti lebih setuju jika Toeti menikah dengan Soera, yang nasabnya berasal dari keluarga priyayi di daerah Purwakarta. Namun Ayah Toeti, Raden Soelaiman, memiliki hutang f 500 kepada Hadji Satia. Ia takut diseret ke pengadilan bila hajat sabahatnya tidak dipenuhi.

Toeti tak berdaya. Ia harus memilih antara kawin dengan Padma atau ayah ditarik ke pengadilan. Kabar ini terdengar oleh Soera. Soera kemudian menemui keluarga Toeti. Ayah Toeti mengatakan, “bila aden dapat membajar oetangkoe kepada Hadji Satia, ambillah Toeti.” Soera melapor pada ayahnya di Purwakarta, namun kondisi ekonominya sulit.

Asmara mereka kandas. Toeti jadi milik Padma. Sementara Soera, merantau ke Batavia, hidupnya merana dirundung bayang-bayang Toeti. Mereka dipertemukan lagi dalam kondisi berbeda. Hadji Satia dan Raden Soelaiman telah wafat, sedangkan Padma sering melakukan KDRT. Ibu Toeti mendukung Toeti cerai untuk kemudian menikahi Soera.

Yuni dan Toeti, keduanya sama-sama kehilangan otonomi dan kedaulatan diri sebab struktur sosial yang tak berpihak. Bedanya, Yuni berasal dari keluarga biasa yang terpinggir dari pembangunan. Sedangkan Toeti berasal dari keluaraga priyayi yang ketat dalam soal kemurnian kelas. Akan tetapi, sekalipun proteksi sosial Toeti lebih besar daripada Yuni, namun keketatan itu adalah struktur lain yang sama membelenggunya dengan dampak sosial dari pembangunan industrialis yang dialami Yuni.

Yuni dan Toeti adalah ‘sample’ representasi sosial perempuan muda Serang di dua zaman yang berbeda. Namun keduanya menunjukkan satu kesamaan mendasar: ketika hierarki kultural mulai melirik uang dengan memanfaatkan keyakinan-keyakinan tertentu, maka saat itu pula kedaulatan perempuan dalam menentukan otonomi domestiknya rentan terenggut secara paksa. Di zaman Toeti, hal itu mewujud dalam bentuk relasi antar kelas. Di zaman Yuni, modusnya mewujud dalam bentuk transaksi materil yang mengatasnamakan kemuliaan dan janji perbaikan rezeki pasca-nikah.