Sihir Kata dalam Kekerasan Seksual



Oleh: Muhammad Naziful Haq

Pada tahun 1929, seorang pelukis Perancis, Rene Margritte pernah melukis sebuah pipa rokok bertuliskan “ceci n’est pas une pipe”, atau “ini bukan pipa”, di bawahnya. La Trahison des Images, demikian judul lukisannya Margritte, atau ‘Pengkhianatan Gambar’, merupakan kritik sekaligus eksperimen sederhana soal bagaimana kata-kata mendahului kenyataan, yang selanjutnya membentuk subjektifitas radikal.

Di kehidupan sehari-hari, kesewenang kata-kata sering terjadi di ranah industri pangan. Misalnya, sekotak jus buah yang mengklaim muatan gizi lebih kaya daripada buah alami. Atau sebuah bola renyah rasa keju (atau rasa apapun) sampai dengan gigih pembeli mengenali batasan tegas antara ciki dan kerupuk.

Akan tetapi, contoh terbaik mengenai konsekuensi fatal dari kesewenangan kata-kata dapat ditemukan dalam pengalaman Annie, tokoh utama film Trust (2010). Annie, gadis SMP usia 14 tahun, tidak terima bahwa ia telah diperkosa oleh laki-laki paruh baya, sepenuhnya karena pelaku piawai memainkan chat dan mendefinisikan selisih umur saat mereka bertemu di mall, “kamu cantik dan spesial. Kamu tidak ingat apa yang telah kita lalui di chat? Ketika seseorang menemukan belahan jiwanya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Umur hanyalah angka. Aku kira kamu cukup dewasa untuk ini.”

Sahabat Annie membawa pengalaman Annie ke kepolisian. Hidup Annie berubah. Kini Annie secara berkala harus kooperatif dengan tim investigasi dan bersentuhan dengan layanan pendampingan psikologis. Annie melihat, tak ada dari orang tua ataupun sahabatnya yang memahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Charlie, si pria paruh baya, tidaklah memperkosanya. Di mata Annie, Charlie adalah pria yang baik, lucu, tidak mudah menghakimi, dan selalu memberikan dukungan.

Ayah Annie mati-matian mengupayakan perlindungan dan keadilan untuk Annie, “kita akan melewati masa sulit ini bersama”. “Bagaimana kau bisa mengatakan ‘kita akan melewati masa sulit ini bersama’!? yang ada di hotel waktu itu dan yang dirundung di sekolah adalah aku! Bagaimana kau bisa mengatakan aku diperkosa, sementara seorang gadis keren di sekolahku telah meniduri setengah siswa anggota tim volly tanpa pengalamannya dianggap sebagai kasus polisi?” kata Annie kepada ayahnya.

Annie tetap yakin kalau pengalamannya bukan tindak perkosaan, sampai tim investigasi menemukan tiga kasus serupa lain yang melibatkan Charlie. Annie melihat korban-korbannya yang seumuran dengannya. Annie tak percaya, mengapa bisa seseorang yang mengakui kecantikan dan kespesialan dirinya ternyata menjalin hubungan dengan tiga gadis lain? Seketika Annie tersadar kalau ia telah mengalami perkosaan.

Namun, apa yang menimpa Annie tidak sepenuhnya berasal dari sihir kata-kata. Annie adalah gadis biasa. Dalam konteks sekolah Amerika, budaya keren (cool culture) menentukan posisi hierarki seseorang. Annie menempati hierarki sosial bawah, yang berdampak pada timbulnya perasaan tak aman (insecure) atas citra tubuhnya (body image).

Musibah itu bermula ketika ayahnya membelikan hadiah Macbook di hari ulang tahun Annie yang ke-15. Sejak itu Annie mengenal dan intens chatting dengan lawan jenis. Tahun 2010, adalah tahun di mana digitalisasi baru saja mengayun penuh. Annie percaya kalau semua pengguna chat adalah baik dan manis.

Dengan kata lain, rasa haus penerimaan sosial dan adanya positivisme teknologis (menerima jagat maya sebagai apa adanya) telah memberikan katalis bagi sihir kata-kata untuk merasuk dalam subjektifitas Annie. Namun Annie bukanlah satu-satunya.

Sejarah chatting, baik di era Facebook ataupun era Telegram, adalah sejarah pemalsuan dan pembelahan identitas pengguna. Anonymous Chat, sebuah bot Telegram yang memungkinkan seseorang bercakap dengan orang lain tanpa tau umur, foto, dan lokasi, kini banyak diminati oleh anak-anak usia remaja muda (12-22 tahun).

Karakter percakapan terbelah menjadi dua. Perempuan biasanya lebih banyak aktif di pagi dan sore hari. Alasan utamanya biasanya untuk mengisi waktu luang. Sedangkan laki-laki lebih banyak aktif di malam hari dengan semangat eksplorasi obrolan eksplisit.

Namun, tahun 2022 bukanlah Yunani era Aristoteles, di mana satu-satunya pelarian dari waktu luang adalah merenung. Tekanan hidup dari struktur neoliberal, stimulus tak-tergapai yang tak berkesudahan di media sosial, alienasi teknologis, dan kelebat informasi yang terlalu cepat adalah beberapa hal yang membelit remaja muda masa kini.

Anonymous Chat menyajikan ruang pelarian untuk masalah-masalah tersebut dalam aneka bentuk obrolan anonim. Sama halnya seperti Annie, kebutuhan tersebut mendorong individu pada positivisme teknologi lebih dalam.

Akun Menfess, sebuah istilah untuk menggambarkan akun anonim yang memfasilitasi pertanyaan ataupun topik-topik yang mustahil dibahas secara terbuka di dunia analog, sering memfasilitasi gejolak remaja, baik itu dalam bentuk mediasi hubungan antar pengguna ataupun dalam bentuk repost curhatan anonim.

Di akun menfess, biasanya mudah untuk menemukan cerita-cerita bagaimana pertemuan anonim di jagat Twitter atau Telegram bisa berakhir di hotel atau tempat sepi lain. Annie-Annie lain pun bermunculan di dunia nyata tanpa kita tau berapa jumlah pastinya, bagaimana perasaan mereka, dan kemana pergerakannya.

De Beauvoir dalam karya ikoniknya The Second Sex (1949) pernah menulis, “perempuan tidak bisa hidup tanpa pendefinisian diri dari laki-laki. Sedangkan laki-laki bebas mendefinisikan dirinya.” Pengalaman Annie menyiratkan bahwa, sihir kata-kata bisa menjadi bagian dari kuasa yang memilukan bagi kehidupan perempuan, jika sebuah masyarakat tidak membudayakan kedaulatan perempuan dalam menentukan otonomi dan definisi dirinya.

Dua hal yang minimalnya dapat diupayakan untuk berbalik dari arah tersebut adalah, pertama, menciptakan rekayasa konstruksi sosial, baik itu melalui media hiburan, berita, ataupun pendekatan subtil lain, yang menekankan gambaran positif dari status-quo jika kedaulatan perempuan telah mapan berdiri.

Kedua, menaruh kepekaan pada masalah hidup, baik itu masalah struktural ataupun psikologis, yang dialami remaja, sehingga pemberontakan eskapis tidak mengarah pada bahaya-bahaya yang berbungkus ramah.

Kedaulatan diri sendiri dan kenyamanan untuk tidak lari, pada gilirannya akan menggerus positivisme teknologi. Sebab, navigasi dirinya telah tuntas, dan iklim di sekitar hidupnya konstruktif. Sehingga, remaja-remaja dengan sendirinya bisa mengenali bagaimana kekerasan seksual juga memanfaatkan sihir kata-kata ‘ceci n’est pas une pipe’ dengan aneka modifikasi dan langgamnya.