Saatnya Beralih ke Bisnis Ramah Lingkungan


  • Monday, 31 January 2022 00:00
  • Artikel
  • 0 Berkas di unduh
  • 961x dibaca.

Pada 2015 suhu bumi yang kita tinggali mencapai rekor terpanas dalam catatan sejarah. Fakta ini diungkapkan dalam konferensi (COP26) yang berlangsung di Glasgow, United Kingdom akhir tahun lalu. Peningkatan suhu tersebut terus terjadi dan mencapai puncaknya pada 2021 yang disertai dengan peningkatan pengasaman dan permukaan air laut.

Peningkatan air laut dipercepat dengan melelehnya gletser dan lapisan es di kutub. World Meteorological Organization (WMO) bahkan menyatakan fenomena cuaca buruk seperti banjir, gelombang panas, longsor dan badai akan menjadi kenormalan baru yang menyebabkan bumi yang kita tinggali ini semakin tidak aman. Dari berbagai rentetan bencana alam tersebut, manusia adalah pelaku utamanya.

Di Indonesia, fenomena perubahan iklim sudah sering kita lihat dan rasakan dampaknya. Salah satu fenomena terbaru adalah terjadinya siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakibatkan banjir bandang disertai tanah longsor. Bencana tersebut menyebabkan 181 orang meninggal dunia, sedangkan 49.512 orang dari 19 kabupaten dan kota mengungsi (Liputan6.com). Fenomena siklon Seroja tersebut merupakan peristiwa langka di kawasan tropis seperti Indonesia.

Menurut catatan BMKG, dalam 10 tahun terakhir siklon yang menerpa kawasan tropis kerap terjadi seiring dengan meningkatnya kondisi suhu dan air laut di perairan Indonesia. Dampak peningkatan suhu juga berdampak pada mencairnya salju abadi di pegunungan Puncak Jaya, Papua. Sejak awal bentangan salju seluas 200 km tersebut diprediksi akan bertahan selamanya. Kini, salju unik yang berada di daratan tropis tersebut hanya tersisa satu persen saja, yakni seluas 2 km persegi. BMKG bahkan memprediksi salju tersebut akan hilang tanpa sisa pada empat atau lima tahun mendatang.

Percaya atau tidak, bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini tidak terlepas dari perilaku industri dan usaha yang tidak memperhatikan lingkungan. Di satu sisi, kegiatan industri dan bisnis bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, tapi disisi lain, ada dampak lingkungan yang menjadi ancaman jika industri dijalankan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan.

Masih banyak yang tidak menyadari kaitan antara bisnis dan kerusakan lingkungan. Keduanya seolah-olah tidak memiliki sebab-akibat. Secara perlahan kini dampak kerusakan lingkungan sudah mulai kita rasakan. Kebakaran hutan yang kerap melanda Kalimantan dan Sumatera sebagian besar merupakan kebakaran yang disengaja oleh pelaku usaha untuk membuka lahan perkebunan. Bakar hutan dianggap jadi cara instan untuk menekan biaya operasional.

“99 persen kebakaran hutan itu adalah ulah manusia, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karena kelalaian. Motif utamanya selalu satu, ekonomi, karena saya tahu pembersihan lahan lewat pembakaran itu adalah cara paling murah,” kata Presiden Joko Widodo dalam Rakornas Pengendalian Karhutla (22/2/21. Kompas.com).

Selain kebakaran hutan, perilaku bisnis juga turut menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas air, menurunnya kualitas udara, kualitas tanah, dan mempengaruhi kesehatan manusia yang hidup di dalamnya. Jenis usaha yang bergantung pada pasokan air bersih turut ambil bagian dalam menurunnya kualitas dan kuantitas air tanah. Bisnis seperti pabrik gula, tahu, perhotelan, budidaya ikan dan sebagainnya memenuhi pasokan airnya dengan mengandalkan pengeboran air tanah. Dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya penurunan permukaan air tanah, air menjadi keruh, tingkat keasaman air berubah, dan menimbulkan bau menyengat dan berakibat buruk pada masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi usaha sehingga mengalami kekurangan air bersih.

Contoh praktik bisnis tidak ramah lingkungan

Selain kualitas air, bisnis yang tidak mengindahkan lingkungan juga bisa berdampak pada kualitas udara kita. Penurunan kualitas udara bisa diukur dengan melihat tingkat kadar karbon di atmosfer, banyaknya sebaran debu atau partikulat, dan persebaran gas-gas yang berbahaya bagi manusia.

Sementara itu, tanah juga akan mengalami penurunan kualitas seperti perubahan struktur, komposisi tanah berubah, dan fungsi konservasi vegetasi pada tanah akan hilang. Dampaknya, bisnis atau industri yang menjadikan kayu sebagai bahan utama produksi akan kehilangan sumber material produksi dan membuat tanah mudah longsor.

Jika kualitas air, tanah dan udara di bumi yang kita tempati ini rendah, maka kualitas hidup manusia di dalamnya semakin memprihatinkan. Air akan menjadi barang langka karena sulit didapatkan, pernapasan manusia terganggu akibat udara yang tercemar, penyakit kulit dan berbagai virus baru akan bermunculan akibat air yang tercemar.

Bisnis Ramah Lingkungan

Meskipun dampak perubahan iklim sudah kita rasakan, bukan berarti sudah terlambat untuk memperbaikinya. Berbagai dampak perubahan iklim yang disampaikan di atas bisa dibenahi perlahan dengan lebih dulu menata sektor bisnis industri. Sebab, sektor inilah yang berperan besar dalam menyebabkan perubahan iklim dan timbulnya bencana alam akhir-akhir ini.

Dengan melihat berbagai fenomena alam tersebut, pelaku bisnis sudah seharusnya menjalani usahanya dengan menyelaraskan hubungan antara alam dan manusia agar dapat hidup berdampingan. Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan terobosan industri yang memasarkan produk mereka dengan embel-embel green atau ramah lingkungan. Mulai dari produk yang menggunakan kemasan daur ulang untuk mengurangi limbah, kendaraan terbaru yang rendah emisi, ramah lingkungan karena rendah polusi, dan segenap promosi produk hijau lainnya.

Pandemi menjadi trigger lahirnya produk-produk ramah lingkungan. Kesadaran konsumen untuk membeli produk sehat telah meningkat. Konsep bisnis hijau ini telah menjadi acuan bagi banyak pelaku usaha, termasuk Indonesia. Kini banyak bermunculan produk yang menerapkan ramah lingkungan.

Dalam hal praktik bisnis ramah lingkungan, Indonesia masih perlu belajar banyak dari Korea Selatan. Di negeri ginseng tersebut kesadaran masyarakat mengenai masalah lingkungan sangat tinggi. Para konsumen lebih memilih membeli produk yang ramah lingkungan meskipun harganya lebih mahal. Tren belanja seperti ini menjadi tanda munculnya era konsumsi hijau atau ramah lingkungan. Tren ini muncul karena timbulnya kesadaran masyarakat Korea Selatan mengenai produk makanan tidak sehat, produk pertanian dan perikanan yang banyak mengandung zat kimia, dan segenap olahan pangan non-organik lainnya.

Peningkatan kesadaran sehat konsumen yang meningkat telah meningkatkan permintaan akan makanan yang sehat dan aman dikonsumsi. Setiap toko dan supermarket di Korea Selatan saat ini lebih banyak menjajakan makanan organik dan menggunakan bahan alami. Akibatnya, bisnis ramah lingkungan semakin bertumbuh dan kini menjadi industri besar di Korea Selatan.

Di Indonesia, meskipun belum marak, beberapa perusahaan telah menggunakan konsep ramah lingkungan sebagai strategi bisnis menggaet konsumen. Salah satunya adalah PT. Unilever’s Tbk. Perusahaan ini merilis komitmen untuk mengurangi dampak perubahan lingkungan. Upaya yang dilakukan adalah mengurangi emisi di sepanjang rantai produksi mereka dengan cara mengurangi karbon, menggunakan AC yang ramah lingkungan, menjalin mitra dengan supplier dan konsumen yang peduli lingkungan, mendukung hemat energi dan menggunakan energi terbarukan.

Dengan melihat berbagai fenomena bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim, sudah saatnya pelaku bisnis menggunakan paradigma hijau dalam setiap produksinya. Menerapkan usaha yang punya dampak positif pada lingkungan sekarang menjadi kebutuhan konsumen dan bisa menjadi strategi pemasaran yang menjanjikan. Akan tetapi, jangan sampai green bisnis ini hanya menjadi gimmick semata, melainkan dipraktikkan untuk menjaga bumi kita tetap lestari dan nyaman ditinggali.

Referensi: