Patriarki di Sarang Burung Gereja


  • Monday, 23 May 2022 08:56
  • Artikel
  • 0 Berkas di unduh
  • 969x dibaca.

Oleh: Muhammad Naziful Haq

“Kalian tidak bisa mengambil sarang atau anakku sebelum kalian menghabisi hidupku,” adalah kalimat yang diucapkan burung gereja betina ketika mempertahankan sarangnya dari agresi burung-burung lain. Sementara, burung gereja jantan meringkuk dibalik sayapnya sambil menimpali, “Anda tidak bisa mendapatkan anak kami tanpa mengambil nyawanya.”

The Man Inside adalah salah satu cerita imajiner dari antologi cerpen berjudul Dawn (2017), karya Selahattin Demirtaş, intelektual sekaligus politisi sayap-kiri Turki. The Man Inside mengisahkan patriarki melalui lakon sepasang burung gereja dan seorang narapidana di dalam sel tahanan.

Dalam The Man Inside, si narapidana membayangkan dirinya memiliki kemampuan bahasa hewan. Dialog utama dibangun dari interaksi dirinya dengan sepasang burung gereja. Intrik bermula ketika si narapidana menyisakan secuil roti kepada burung betina yang sibuk merangkai sarang dari helai daun dan batang ranting.

“Tuhan memberkatimu, saudara. Jika mengandalkan si jantan pemalas itu, makanan tidak akan cukup untuk hidup. Aku harus berjuang demi kehidupan,” gerutu burung betina kepada si narapidana.

Rupanya percakapan mereka didengar oleh burung jantan. Seketika, si burung jantan menyuruh betinanya masuk, dan berkata kepada tokoh , “Saudara, apakah ada sesuatu? Jika anda punya masalah katakan kepada saya.”

Si narapidana menyadari bahwa burung betina hendak bertelur. Keesokan paginya, ia terbagun karena riuh kicau burung-burung asing. “Dengar saudaraku, kalian sudah membangun sarang tanpa ijin. Kalian juga tidak mempunyai hak tinggal. Kami akan menghancurkan sarang kalian, atau sebagai hukuman, serahkan anak kalian ke kami setelah menetas?” sahut salah satu burung agresor.

Si burung betina melawan dengan sayap setengah terbentang. “Kalian tidak bisa mengambil sarang atau anakku sebelum kalian menghabisi hidupku,” bentak si betina. Sementara, burung gereja jantan meringkuk dibalik sayapnya sambil menimpali dengan intonasi ambigu, “Anda tidak bisa mendapatkan anak kami tanpa mengambil nyawanya.”

Para agresor memanas. Mereka bersiap menyergap, sementara si burung betina tetap pada pendiriannya. “Aku akan melawan hingga nafas terakhir,” teriak si betina. “Lawanlah hingga napas terakhir, betinaku!” sahut si pejantan.

Burung-burung menggelepar, beterbangan kesana-kemari. Pertarungan heroik terjadi antara burung betina melawan empat burung agresor. Si narapidana kagum pada tekad burung betina dalam melindungi sarangnya, dan mengatakan, “Sementara, makhluk yang sejenis kelamin denganku itu hanya melihat ke arah ku … Pertama-tama, kau [si burung jantan] harus membunuh laki-laki dalam jiwamu.”

Kisah imajiner antara si narapidana dan burung gereja telah memantulkan cerminan bagaimana patriarki membatasi, tapi sekaligus menelantarkan, perempuan. Dua wajah patriarki, yakni dominasi dan pengabaian, membuka peluang hipokripsi: kecenderungan menguasai dan memproteksi otonomi perempuan bila kelaki-lakiannya superior, tapi disaat yang sama juga cenderung mengabaikan dan lari bila pihak perempuan lebih superior daripadanya. Sebagai fakta sosial imajiner, cerita fiksi atau karya sastra kerap melukiskan situasi masyarakat dalam bentuk simulasi tertentu, yang kadang disertai dengan kritik, metafora, ataupun satir dari kondisi sosial disekitar si penulis. Dari bentuk simulasi tersebut, ada sedikit-banyak plot cerita yang beririsan dengan peristiwa-peristiwa di dunia nyata. Inti dari lakon burung gereja adalah soal tema mempertahankan hidup dalam sistem pembagian otonomi dan pembagian kerja yang timpang. Beberapa daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, atau Pekalongan misalnya, memiliki perempuan dengan etos mirip burung betina dalam lakonnya Demirtaş.

Pusat niaga dengan aneka komoditas di daerah-daerah tersebut banyak digerakkan oleh perempuan, bahkan hingga di ranah pekerjaan yang menguras energi sekalipun, seperti kuli pasar, ataupun pengangkut kayu bakar di daerah perbukitan Gunungkidul. Namun, jumlah energi kerja tidak selalu sebanding dengan jumlah penghasilan. Di sektor rumah tangga, masalah penghasilan dapat menjadi katalis bagi konflik rumah tangga yang selanjutnya membuka wajah patriarki yang mendua tadi.

Hal ini terjadi sejak kesempatan kerja (pemenuhan kebutuhan hidup) laki-laki tidak sebanding dengan gairah penguasaan otonomi dan otoritas terhadap pasangannya. Di kawasan poor-urban daerah Jabodetabek, perempuan lebih memungkinkan mendapat pekerjaan daripada laki-laki karena ketersediaan lapangan kerja sektor domestik tidak membutuhkan kualifikasi khusus, dan secara kultural lebih berpihak pada perempuan. Buruh cuci, seterika, asisten rumah tangga, baby-sitter―untuk menyebutkan beberapa.

Sementara itu, laki-laki dihadapkan pada kondisi kesempatan kerja di sektor non-domestik yang cenderung lebih tidak pasti, atau musiman, seperti pengumpul barang bekas, kolektor upeti di pusat keramaian, pekerja proyek, dan lain-lain.

Diskrepansi cara pemenuhan hidup antara laki-laki dan perempuan dapat meradangkan sistem patriarki yang dasarnya berasal dari premis Darwinian: perempuan mencari penyedia sandang, pangan dan papan, sedangkan laki-laki menyediakannya. Sinisme burung betina pada pejantannya terjadi dalam nuansa premis Darwinian yang meradang, yakni: pihak laki-laki gagal menyediakan kesejahteraan dan keamanan.

Sejak teori Darwin berakar dari pengamatan kehidupan fauna, memetafora sistem patriarki melalui cerita fabel adalah terdengar padu. Namun, kehidupan manusia mengenal istilah konstruksi sosial dan struktur sosial.

“Kau harus membunuh laki-laki dalam jiwamu,” adalah saran si narapidana agar si burung jantan mengubah konstruksi dirinya. Pekerjaan rumah selanjutnya adalah memastikan tersedianya struktur sosial yang menunjang bagi konstruksi sosial baru yang lebih sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, ego patriarkal tidak hanya membuka kesempatan pada kekerasan, pembatasan ataupun pengabaian terhadap perempuan, melainkan juga―ketika menubuh secara institusional―dapat menjadi hambatan bagi proses pemenuhan hak-hak perempuan korban struktur sosial yang timpang, baik di ranah otonomi diri ataupun seksual.