Mencegah Perubahan Iklim Ada di Tangan Generasi Muda


  • Sunday, 05 June 2022 02:31
  • Artikel
  • 0 Berkas di unduh
  • 986x dibaca.

Oleh: Bintang W. Putra

Tepat hari ini, 5 Juni 2022, seluruh dunia sedang memperingati Hari Perubahan Iklim. Kondisi bumi yang kita tinggali memang sedang tidak baik-baik saja. Beberapa dekade terakhir kesadaran mengenai dampak perubahan iklim mulai meningkat, puncaknya pada September 2019.

Disebutkan sebanyak empat juta orang dari berbagai penjuru dunia turun ke jalan berpartisipasi dalam climate strike atau disebut juga Fridays for Future. Indonesia memperingati hal serupa melalui aksi Jeda untuk Iklim. Di Jakarta, aksi ini diikuti ribuan orang.

Aksi menentang perubahan iklim telah melahirkan banyak tokoh muda. Mereka dikenal karena keberanian dan kepeduliannya terhadap kondisi iklim. Kita tidak asing dengan nama Greta Thunberg, pada 2018 saat usianya lima belas tahun dia melakukan aksi sendirian di gedung parlemen Swedia sembari membentangkan poster bertuliskan “School Strike for Climate”.

Selain Greta ada juga Vanessa Nakate, aktivis muda asal Uganda. Seperti Greta, Vanessa juga membolos sekolah demi melakukan protes di depan gedung parlemen negaranya. Di Indonesia sosok anak muda bernama Salsabila Khairunisa melakukan aksi “Mogok Sekolah Untuk Hutan” di depan kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di Vietnam ada Mai Thi Thuan, dan Pakistan punya Yusuf Baluch.

Fakta bahwa generasi muda mulai banyak yang peduli dengan perubahan iklim sedang terjadi di banyak negara, termasuk di Indonesia. Data yang dirilis UNDP 2019 menunjukkan mayoritas anak muda di seluruh dunia punya kesadaran yang lebih tinggi mengenai perubahan iklim ketimbang generasi sebelumnya. Maka tidak mengherankan jika banyak generasi muda yang terjun dan berjuang mengatasi krisis iklim.

Aktifnya generasi muda mengkampanyekan krisis iklim bukan tanpa alasan. Survei Indonesians & Climate Change yang dilakukan Purpose Climate Lab menyebutkan bahwa generasi muda sangat takut dengan perubahan iklim dan itu berdampak secara psikologis, sosial, dan fisik. Fakta tersebut didapat melalui survei yang melibatkan 2.073 responden di 27 wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia.

Masih dari survei yang sama, ketakutan generasi muda tidak hanya karena kerusakan dan dampak lingkungan semata, tapi juga ketakutan atas tindakan dan kebijakan pemerintah yang tidak mampu mengatasi perubahan iklim dengan baik. Generasi muda merasa suara dan aktivitas protes mereka tidak dipedulikan oleh pemerintah. Kecemasan ini muncul di negara-negara yang pemerintahnya tidak mampu membuat regulasi yang kuat untuk mengatasi perubahan iklim.

Membumikan Narasi Perubahan Iklim

Meskipun secara data isu perubahan iklim ramai diperbincangkan generasi muda, angkanya masih kalah jika dibandingkan dengan isu lain yang lebih konkrit seperti kelaparan, kesehatan, korupsi, dan sebagainya. Isu perubahan iklim masih dianggap tidak riil karena dampaknya belum begitu terasa.

Isu perubahan iklim, meskipun sebagian generasi Z membicarakannya, tapi isunya masih berkutat di kelompok tertentu saja. Hanya terbatas pada kelompok kelas menengah, pelajar dan mahasiswa. Isu ini masih belum meluas ke kalangan kelompok miskin kota, masyarakat adat, dan kelompok rentan lain yang memiliki akses informasi terbatas.

Dampak perubahan iklim bisa sangat berbeda jika dialami kalangan kaya dan miskin. Si kaya bisa dengan mudah pindah tempat tinggal ke kawasan yang lebih aman. Sementara si miskin jangankan pindah rumah, memenuhi kebutuhan dasar seperti air dan makanan akan mengalami kesulitan.

Kesenjangan informasi tersebut bisa terjadi karena narasi perubahan iklim belum merata di semua kalangan. Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Tata Mutasya mengatakan menyadarkan publik mengenai dampak perubahan iklim perlu dengan narasi yang sederhana dan membumi agar diterima semua kalangan.

Menurut Tata, trik kampanye yang bisa dilakukan adalah dengan mengaitkan isu perubahan iklim dengan isu lain yang dampaknya sudah dirasakan oleh masyarakat. Misalnya mengaitkan krisis iklim dengan dampak kesehatan, ekonomi atau dengan fenomena rob yang terjadi di Semarang, Jawa Tengah baru-baru ini.

Banjir rob yang terjadi di pesisir utara Jawa tersebut tidak semata-mata terjadi karena faktor cuaca seperti yang dikatakan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Menurut Ahli Lingkungan dan Tata Kota Universitas Islam Sultan Agung, Mila Karmila, banjir rob tersebut merupakan akumulasi dan banyaknya masalah di pesisir Semarang-Demak.

Mila mengatakan faktor lain yang menjadi penyebab naiknya air laut karena dampak pembangunan jalan tol Semarang-Demak, pengambilan air tanah secara berlebihan dan tidak berjalannya fungsi manajemen tanggul.

Memanfaatkan Media Sosial

Wadah yang paling tepat membumikan dampak krisis iklim adalah melalui media sosial. Sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia, kampanye perubahan iklim seharusnya bisa dengan mudah dilakukan.

Dewi Safitri dari Society of Indonesian Science Journalist (SISJ) mengatakan media sosial bisa jadi wadah penyampaian informasi tentang perubahan iklim. Generasi muda yang aktif dan familiar dengan media sosial bisa jadi agen tepat dalam menyebarluaskan pemahaman mengenai kondisi iklim.

Penggunaan bahasa yang lebih kasual dan mudah dimengerti di media sosial bisa membuat isu perubahan iklim lebih diterima semua kalangan. Sebab, terminologi perubahan iklim sebenarnya adalah istilah akademis yang tidak semua orang paham. Bisa pula dengan membuat konten digital dengan bahasa dan penjelasan yang lebih sederhana.

Isu perubahan iklim tidak jauh beda Covid-19 di awal-awal kemunculannya. Mulanya orang tidak banyak yang paham dan sadar betapa ganasnya virus ini. Tapi, karena kita menerima informasi Covid-19 setiap hari selama dua tahun, kita jadi paham dan tahu cara agar terhindar dari virus tersebut.

Artinya, perlu peran generasi muda untuk terus menyuarakan dan menarasikan bahaya perubahan iklim melalui media sosial agar gaungnya semakin terdengar, semakin banyak yang sadar, semakin sehat pula bumi yang kita tinggali.

Referensi:

● Anastasya Lavenia. Peran Anak Muda sebagai Komunikator Krisis Iklim. 2021. Remotivi.com. https://www.remotivi.or.id/mediapedia/729/peran-anak-muda-sebagai-komunikator-krisis-iklim

● YouGov. Where Climate Change Deniers Live. 2020.

● CNN Indonesia. Indikator: Krisis Iklim Jadi Perhatian Generasi Z dan Milenial. 2021. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211027163329-32-713186/indikator-krisis-iklim-jadi-perhatian-generasi-z-dan-milenial

● BB Indonesia. Perubahan iklim: Anak-anak muda di dunia ‘sangat khawatir’, di Indonesia ‘takut rumah kebanjiran’. 2021. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-58545546

● Fadiyah Alaidrus. Narasi Krisis Iklim Masih Mengawang, Bagaimana Mendekatkannya dengan Masyarakat?. 2022. https://www.remotivi.or.id/di-balik-layar/742/narasi-krisis-iklim-masih-mengawang-bagaimana-mendekatkannya-dengan-masyarakat