High-level Political Forum 2022


  • Tuesday, 23 August 2022 07:26
  • Artikel
  • 1 Berkas di unduh
  • 719x dibaca.

Ditulis oleh : Angelika Fortuna Dewi - Program Officer SDGs INFID

High-level Political Forum on Sustainable Development (HLPF) adalah platform tahunan inti PBB untuk menindaklanjuti dan mengevaluasi Agenda 2030 untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs)[ https://www.unep.org/events/conference/high-level-political-forum-sustainable-development-2022 ]. Setiap tahun pada bulan Juli, negara-negara anggota PBB menghadiri pertemuan HLPF untuk melaporkan progres dan tantangan yang dihadapi dalam mencapai Agenda Pembangunan SDGs 2030 dari negara masing-masing. HLPF tahun ini diadakan selama 9 hari sejak 5 - 15 Juli yang dihadiri lebih dari 140 negara di Kantor Pusat PBB, New York, Amerika Serikat.

Tahun ini, sebanyak 44 negara mempresentasikan Voluntary National Reviews (VNR) terhadap implementasi Agenda 2030. 11 negara mempresentasikan VNR untuk yang pertama kali, 28 negara untuk yang kedua kali, 3 negara untuk yang ketiga kali, dan 2 negara untuk yang keempat kali. Sesi VNR dilakukan untuk memfasilitasi berbagi praktik-praktik baik, termasuk tantangan dan pembelajaran dalam capaian TPB/SDGs 2030. VNR juga digunakan sebagai penguatan kebijakan dan institusi pemerintahan, serta dukungan multipihak dan kemitraan pada TPB/SDGs.

HLPF 2022 juga mengakomodir Side Event sebanyak 273 acara. INFID terlibat dalam beberapa Side Event secara daring yang diadakan oleh mitra INFID seperti FORUS dalam sesi “Harnessing the power of digitalization to promote democracy and strengthen civic space” dan “Leveraging SDG 17 to strengthen and improve the VNR process”. INFID juga berpartisipasi pada Side Event beberapa organisasi lain seperti NGO Major Group (MGOS) dalam “Community action for the recovery: Grassroot models for the benefit for all”, Civil Society Platform for Peacebuilding and Statebuilding dalam “Voices of SDG16+ : Stories for Global Action video campaign” dan Volunteer Groups Alliance dalam “Accelerating the 2030 Agenda for Sustainable Development Implementation - Addressing Systemic Barriers, Recovery Gaps, and Strengthening People's Participation".

https://inclusion-international.org/event/hlpf-2022/

Pembahasan Kunci HLPF 2022 HLPF 2022 bertemakan “Building Back Better From The Coronavirus Disease (Covid-19) While Advancing The Full Implementation of The 2030 Agenda for Sustainable Development”[ https://hlpf.un.org/2022 ]. Tema HLPF tahun ini diangkat seiring dengan kondisi dunia yang sedang memperbaiki arah dan kebijakan pembangunan sejak hampir tiga tahun berhadapan dengan COVID-19. Di sisi lain, ada urgensi untuk mengakselerasi capaian agenda TPB/SDGs yang mengalami penurunan cukup drastis akibat pandemi.

HLPF 2022 diawali dengan refleksi kritis bagaimana COVID-19 telah mendisrupsi kehidupan masyarakat secara global, serta menunjukkan kondisi ketimpangan dan kerusakan sistem tatanan kehidupan alam dan manusia. Pertama, ada kekhawatiran yang masif bahwa COVID-19 terus menciptakan dan memperparah kesengsaraan manusia dan kerusakan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan. Kekhawatiran ini tercermin dari beberapa hal, seperti kelaparan ekstrim, malnutrisi, krisis pangan, air, ketidakadilan, terganggunya proses pendidikan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, pengangguran, pembatasan terhadap sumber daya ekonomi dan finansial, infrastruktur yang resilien, semakin rentannya kelompok yang sudah rentan, terlebih peningkatan kerentanan akibat perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi. Kedua, HLPF 2022 mengakui ada ketimpangan dalam proses pemulihan ekonomi dan kesehatan global. Di sektor ekonomi, inflasi, kemiskinan, ketimpangan, konsumsi yang tidak bertanggung jawab, peningkatan harga komoditas, dan gangguan rantai suplai telah memperbesar gap antar negara menuju pemulihan global, khususnya bagi negara-negara yang sudah menderita kemiskinan ekstrim, krisis pangan dan malnutrisi. Ketiga, COVID-19 telah menunjukkan keterkaitan hubungan antara manusia dan alam. Kesehatan manusia tidak lepas dari peran ekosistem, hewan, dan tumbuhan yang akan menentukan kapasitas manusia dalam menghadapi infeksi dan penyakit.

Secara spesifik, HLPF 2022 memberikan evaluasi khusus terhadap lima TPB/SDGs, yaitu Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), 5 (Kesetaraan Gender), 14 (Ekosistem Lautan), 15 (Ekosistem Daratan) dan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)[ https://hlpf.un.org/sites/default/files/2022-07/HLPF%202022%20MD%2013%20July.pdf ].

Tujuan 4: Memastikan kualitas pendidikan yang adil dan inklusif, serta mendorong kesempatan belajar untuk semua HLPF 2022 memposisikan hak atas pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Merealisasikan hak atas pendidikan bagi semua adalah bagian dari realisasi HAM. Maka dari itu, diperlukan tindakan-tindakan untuk mengurangi disrupsi terhadap proses belajar-mengajar seperti bencana alam, pandemi, pengurangan budget pendidikan, termasuk nutrisi anak, segala bentuk kekerasan (termasuk kekerasan seksual dan berbasis gender). Pendekatan terhadap reformasi kualitas pendidikan perlu dilakukan dengan cara-cara yang non-diskriminatif, aksesibel, multisektoral, dan peka terhadap anak dan gender, khususnya bagi anak-anak usia sekolah yang berada dalam kondisi rentan seperti berpendapatan rendah, berkebutuhan khusus, imigran, pencari suaka, situasi perang dan krisis, dan lain sebagainya.

Tujuan 5: Mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan COVID-19 telah memukul mundur progres terhadap capaian keadilan gender dalam perspektif pemenuhan hak asasi manusia. Pertama, kesempatan kerja dan pendidikan terhadap perempuan menurun drastis, dimana kondisi ini memperparah kesenjangan perempuan terhadap akses kerja dan pendidikan yang setara bahkan sebelum kondisi pandemi. Kedua, peningkatan kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender dan kekerasan dalam rumah tangga. Ketiga, menurunnya layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan akibat pandemi. Kelompok perempuan rentan, disabilitas, kelompok perempuan adat, marjinal dan yang berada di lokasi terpencil dan rentan bencana. Pendekatan yang sifatnya berorientasi pada keluarga perlu dilakukan sebagai bentuk edukasi dini terhadap peran perempuan dan laki-laki dalam perspektif HAM. Pendekatan perencanaan dan budgeting yang responsif gender juga perlu dilakukan dalam investasi, monitoring dan evaluasi program dan kegiatan yang mendorong kebijakan berbasis gender. Pendekatan lain yaitu partisipasi bermakna dari perempuan dalam proses membangun kedamaian dunia, pencegahan dan resolusi konflik yang termasuk usaha PBB dalam implementasi Agenda 2030.

Tujuan 14: Penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berkonservasi untuk pembangunan berkelanjutan HLPF 2022 mengakui bahwa laut yang sehat, produktif dan berkelanjutan adalah aspek fundamental terhadap kehidupan bumi dan kesejahteraan generasi saat ini dan di masa yang akan datang. Di saat yang sama, ekosistem kelautan global mengalami kerusakan akibat krisis iklim dengan proyeksi kerusakan karang mencapai 70-90%, kenaikan air laut, erosi pesisir dan pemanasan serta naiknya tingkat keasaman laut pada kenaikan suhu global 1,5 derajat celcius. COVID-19 juga telah berdampak signifikan pada ekonomi kelautan negara-negara berkembang di kepulauan kecil. Selain itu, sampah medis karena COVID-19 yang terbuang di perairan juga memperparah polusi plastik di lautan. Urgensi ini telah mendorong terbitnya resolusi 5/14 sidang umum UNEP untuk mengeluarkan regulasi internasional yang mengikat secara hukum terkait polusi plastik lautan[https://wedocs.unep.org/bitstream/handle/20.500.11822/39812/OEWG_PP_1_INF_1_UNEA%20resolution.pdf]. HLPF 2022 juga mendorong pentingnya solusi berbasis alam dan pendekatan berbasis ekosistem dalam usaha konservasi, perlindungan, perbaikan dan penggunaan sumberdaya kelautan yang berkelanjutan. Pendekatan ini juga diaplikasikan dalam pengurangan risiko bencana dan pengembangan sistem peringatan dini terkait risiko kebencanaan laut.

Tujuan 15: Melindungi, memulihkan, dan mempromosikan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi penggurunan, dan menghentikan serta membalikkan degradasi lahan dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati HLPF 2022 menekankan bahwa keragaman hayati dan fungsi-fungsi ekosistem menyokong seluruh bentuk kehidupan di bumi dan mendukung pembangunan berkelanjutan dalam segala dimensi. Namun, saat ini dunia mengalami kehilangan keragaman hayati, perubahan iklim, deforestasi, kerusakan lahan dan penggurunan, kerusakan laut dan ekosistem air tawar, polusi, serta tereskalasinya risiko krisis pangan dan kesehatan yang dapat menyebabkan krisis ekonomi dan konflik sosial. Masalah ini tercermin pada COVID-19 sehingga perbaikan lingkungan menjadi satu tindakan penting dalam pemulihan COVID-19. Oleh karena itu, perlunya pendekatan yang berbasis alam dan ekosistem dan pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan untuk perlindungan, restorasi, konservasi terhadap lahan basah, lahan kering, pegunungan dan ekosistem alam lainnya. Komitmen perbaikan alam dan restorasi juga tertuang dalam United Nations strategic plan for forests 2017–2030, International Year of Sustainable Mountain Development dan Convention on Biological Diversity and its post-2020 global biodiversity framework

Tujuan 17: Penguatan implementasi dan revitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan Komitmen kemitraan global dalam mencapai Agenda 2030 menjadi poin penting dalam capaian TPB/SDGs. Salah satunya melalui mobilisasi sumber daya manusia, finansial, keahlian, teknologi dan pengetahuan. Pertama dari segi bantuan antar negara, Official Development Assistance (ODA) menjadi instrumen penting dalam strategi pemulihan COVID-19. HLPF 2022 mendorong mitra-mitra pembangunan untuk meningkatkan komitmen ODA, termasuk peningkatan persentase ODA negara-negara maju dari 0,7% ke 0,15-0,20% dari pendapatan nasional ke negara-negara miskin. Kedua, pentingnya pendekatan yang multipihak terhadap utang luar negeri dan juga investasi ke sektor-sektor strategis, seperti pengentasan kemiskinan, agrikultur, air, konektivitas digital, proteksi sosial, dan infrastruktur. Ketiga, kerjasama negara-negara Utara dan Selatan (North-South Cooperation) untuk mencapai Agenda 2030, termasuk kemitraan dalam strategi pemulihan COVID-19.

HLPF 2022 dan Komitmen INFID HLPF mendeklarasikan keberlanjutan dan penguatan komitmen-komitmen untuk mencapai TPB/SDGs. Mencapai Agenda 2030 tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah nasional, namun membutuhkan kerjasama dengan pemerintah lokal/daerah untuk memastikan terpenuhinya target dan tujuan pembangunan bersama yang juga turut melibatkan pihak swasta dan organisasi masyarakat sipil (OMS). Kehadiran OMS penting dalam mendukung diseminasi kebijakan berbasis pengetahuan, yang juga turut memperkuat pembentukan kebijakan publik. Hal ini selaras dengan prinsip INFID sebagai OMS dalam menjalankan program dan kolaborasi multipihak untuk menguatkan kebijakan publik yang berbasis penelitian dan keterwakilan masyarakat lintas geografi, gender dan kerentanan sosial-ekonomi.