Beauty and The Business: Kapitalisasi Mahasiswi di Akun Cantik


  • Thursday, 25 August 2022 09:05
  • Artikel
  • 0 Berkas di unduh
  • 573x dibaca.

Komodifikasi perempuan berevolusi seiring dengan perubahan media. Beberapa pihak anonim membuka ‘akun cantik’ di media sosial. Banyak foto-foto mahasiswi di universitas umum maupun keagamaan dipajang di akun cantik. Akun cantik menggunakan nama universitas tanpa izin resmi.

Sebagian admin mengklaim bahwa unggahan tersebut dilakukan dengan persetujuan mahasiswi yang bersangkutan, dan tidak melanggar UU ITE. Tetapi, beberapa pihak juga mengkritik dan mengeluhkan temuan adanya unggahan tanpa izin. Beberapa tempat kerja ternama juga dicatut namanya oleh sebagian pihak anonim untuk komodifikasi perempuan-perempuan yang bekerja di perusahaan tertentu.

Instagram menjadi platform andal dalam mengakomodasi kebutuhan visual. Akun-akun cantik biasanya mengunggah berdasarkan rekomendasi para pengikut di direct message (dm). Dengan kata lain, terunggahnya foto seorang mahasiswi di akun cantik bisa jadi buntut dari saran orang lain di lingkar terdekat.

Jumlah pengikut akun-akun cantik beragam, dari mulai ribuan sampai puluhan ribu pengikut. Beberapa akun cantik yang mendompleng nama universitas besar, seperti UI, UGM, atau UNPAD misalnya, telah diikuti oleh sekitar 90 ribu sampai 200 ribu orang. Jumlah ini menjadikan akun-akun tersebut sebagai bagian dari market of attention, atau ‘pasar perhatian’, di mana perhatian audiens adalah modal berharga bagi proses akumulasi kapital di tengah persaingan arus informasi yang cepat dan distraktif.

Pada beberapa musim tertentu, seperti hari valentine, musim penerimaan mahasiswa baru, atau saat kegiatan organisasi intra kampus sedang ramai, jumlah pengikut akun-akun cantik dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak eksposur kebutuhan bisnis, interaksi, ataupun partisipasi kegiatan.

Ikatan di antara mereka murni hubungan transaksional yang dituangkan dalam agenda-agenda sesuai pesanan. Pada kesempatan tertentu, lini masa akun cantik universitas biasanya mengunggah acara blind-date yang berkolaborasi dengan akun cantik dari universitas lain. Pendaftar perlu merogoh kocek 20 ribu – 50 ribu untuk mengikuti peruntungan asmara lintas kampus.

Meski sebagian mahasiswi merasa dirugikan atas terunggahnya foto mereka tanpa persetujuan, namun tidak sebagian pihak lain mengambil untung dari akun cantik untuk menunjang kegiatan kemahasiswaan tertentu. Iklan produk untuk menunjang pendanaan kegiiatan organisasi intra-kampus (danus/dana usaha) biasanya melejit signifikan setelah kerjasama dengan akun cantik dilakukan. Para klien cukup menebus tarif endorse yang telah ditentukan admin akun cantik.

Fenomena akun cantik telah mendemonstrasikan dua hal yang saling kelindan yakni, kapitalisasi kekayaan yang dilakukan akun cantik berdiri di atas praktik pendomplengan nama institusi dan komodifikasi tubuh perempuan. Nama universitas diperankan sebagai modal simbolis untuk membentuk batas imajiner tentang mutu perempuan antar lembaga. Nama institusi menggantikan ‘label merk’ dalam makna tradisional periklanan.

Akumulasi kekayaan mengalir melalui kegiatan yang bertema daya tarik fisik dan menjanjikan petualangan asmara. Pada jalur yang berbeda, akumulasi kekayaan akun cantik juga diperoleh dari peluang komersil kegiatan-kegiatan individu ataupun organisasi mahasiswa yang bernuansa edukatif di sekitarnya.

Siklus kapitalisasi mahasiswi di akun cantik merugikan perempuan. Sorotan utama terletak pada masalah privasi. Keterbukaan untuk mengirim foto mahasiswi tanpa persetujuan pemiliknya membuka peluang predatoris yang multi-fungsi nan ambigu. Satu sisi, praktik ini dapat dikategorikan dalam kerangka cool-culture anak muda sebagai pencarian identitas dan eksistensi.

Di lain sisi, praktik tersebut juga dapat disalahgunakan untuk bagian awal dari kebanalan tak terduga, atau niat lain yang sengaja mengusik privasi individu yang bersangkutan. Jadi, banyak pihak bisa menunaikan niat baik-buruk tertentu pada sirkulasi foto tersebut—termasuk motif komersil ataupun scamming.

Akun cantik sulit untuk didisiplinkan sejak pengelola beserta jejaring aktornya bersifat klandestin. Derajat aktivitasnya juga sukar untuk dikategorikan bila hendak dijerat undang-undang atau sekedar dinormalisasi sebagai bersenang-senang. Dengan derajat kegiatannya yang mengambang, akun cantik dapat mengaburkan maksud unggahannya dengan klaim-klaim yang menuai ragam tafsir bagi pihak pengguna, pendukung, pengkritik ataupun pelapor.

Ibarat, apa yang Thomas Hobbes sebut sebagai, ‘kondisi alamiah’ (state of nature), jagat digital membebaskan orang berbuat sesukanya, termasuk memangsa sesama. Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala bagi sesama. Akun cantik memainkan ceruk Hobbesian yang hanya bisa dibatasi lewat kesepakatan sosial.

Pendisiplinan akun cantik membutuhkan pelaporan massif dari para pengguna media sosial ke platform yang bersangkutan. Tarik-ulur kesepakatan sosial muncul lantaran pelaporan akun cantik akan bersaing dengan penerimaan para pengguna yang menerima keberadaan akun cantik. Tradisi male-gaze biasanya lumrah di kalangan yang belakangan disebut. Sehingga, ada atau tiadanya akun cantik ditentukan oleh kesepakatan sosial jejaring pengguna yang dimoderatori oleh server platform media sosial.

Sejak sasaran demografi akun cantik adalah pemuda-pemudi di perguruan tinggi, maka pengarus-utamaan nilai-nilai keadilan gender menjadi agenda penting bagi pendidikan di kampus. Hal ini dapat diperkuat misalnya dengan membuat peraturan etik soal teknik penggalangan dana ataupun promosi kegiatan kemahasiswaan. Tetapi, respon tegas universitas terhadap akun cantik, juga tidak kalah penting.