Ancaman Perubahan Iklim di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?


  • Tuesday, 17 May 2022 13:19
  • Artikel
  • 0 Berkas di unduh
  • 139x dibaca.

Fenomena perubahan iklim mulai ramai dibicarakan belakangan ini. Salah satu pemantiknya adalah forum COP26 di Inggris pada 2021 lalu. Forum tersebut menyiratkan satu hal bahwa peristiwa bencana iklim yang masif terjadi di berbagai belahan dunia bisa menjadi ancaman masa depan kita.

Di Indonesia, peristiwa perubahan iklim sudah sering kita rasakan. Praktik bisnis tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh sejumlah korporasi menjadi faktor yang mempengaruhi percepatan perubahan iklim. Salah satu peristiwa besar adalah kebakaran hutan yang terjadi pada 2019. Kebakaran tersebut terjadi di area seluas 4000 km yang dilakukan secara sengaja untuk membuka lahan.

Kebakaran yang disengaja tersebut mengakibatkan setidaknya 709 juta ton karbon dioksida yang dilepaskan ke udara. Akibatnya, kebakaran masif ini mengakibatkan 900.000 orang mengalami gangguan pernapasan dan kegiatan sehari-hari masyarakat juga terganggu (Arumningtyas, 2019). Belum lagi dampak jangka panjang terhadap kesehatan akibat terjadinya kebakaran hutan.

Perubahan iklim dan ancaman yang menyertainya bisa menjadi mimpi buruk bagi masa depan planet ini dan semua makhluk hidup yang ada di dalamnya. Selain itu, perubahan iklim juga menjadi salah satu batu hambatan dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan (SDGs) 2030. Michelle Bachelet, Komisaris Tinggi PBB juga mengatakan hal serupa bahwa perubahan iklim bisa menjadi ancaman serius bagi penegakan HAM di abad 21 ini.

Kondisi iklim yang memburuk bisa menjadi ancaman bagi berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari hak untuk hidup, hak atas kesehatan, ketersediaan makanan, air bersih dan tempat tinggal. Berbagai ancaman tersebut sudah mulai muncul dengan terjadinya bencana kelaparan, merebaknya penyakit malaria, gizi buruk, dan sebagainya.

Perubahan iklim yang terjadi di taraf global turut serta mengubah iklim regional di Indonesia. Terjadinya perubahan iklim pada suatu kawasan bisa dilihat dari suhu udara yang lebih tinggi dan pola curah hujan yang tidak menentu. Selain itu, kenaikan permukaan air laut dan meningkatnya frekuensi ancaman bahaya mengenai dampak perubahan iklim menjadi ancaman yang harus diwaspadai.

Perubahan iklim bisa berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Sebab, sektor yang paling sensitif dan rentan terkena dampak perubahan iklim adalah pertanian, sumber daya air, kawasan pesisir, kehutanan, pedesaan/perkotaan, dan sektor kesehatan. Curah hujan yang tidak menentu menjadi faktor krusial yang mempengaruhi produktivitas tanaman. Di sektor pertanian misalnya, sektor ini mengalami dampak perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu sehingga mempengaruhi proses fotosintesis, transparansi, dan laju respirasi tanaman. Komoditas yang paling merasakan imbas perubahan iklim di antaranya adalah padi, tembakau, tebu, kacang hijau, perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan yang dibudidayakan di Indonesia.

Isu Perubahan Iklim Belum Membumi

Meskipun sudah banyak contoh dan peristiwa yang diakibatkan oleh perubahan iklim, tapi masih banyak dari kita yang abai dan bahkan menganggapnya tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun intensitas publikasi perubahan iklim meningkat, tapi tak kunjung dianggap sebagai masalah bersama dan perlu segera dicarikan solusi. Di kalangan generasi muda, kesadaran mengenai bahaya perubahan iklim sudah mulai tampak beberapa tahun terakhir. Terlihat dari banyaknya generasi muda mulai sadar dan beralih menggunakan sedotan besi yang tidak sekali pakai, mulai banyak juga yang memilih membawa botol minum sendiri saat bepergian, dan juga belanja membawa kantong belanjaan sendiri, dan sebagainya.

Akan tetapi, personalisasi solusi krisis iklim tersebut belum mampu berbicara banyak dalam mengatasi perubahan iklim. Jumlah sampah yang dihasilkan penduduk Indonesia masih tinggi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut total sampah nasional pada 2021 sebanyak 68.5 juta ton. 17 persen atau 11,6 juta dari jumlah sampah tersebut adalah sampah plastik.

Perlu disadari bahwa masalah krisis iklim merupakan masalah sistemik yang juga membutuhkan solusi sistemik. Maka dari itu, untuk mengatasinya tidak cukup dengan gerakan berhenti menggunakan sedotan, botol minum dan kantong plastik. Lebih dari itu, perlu adanya keseriusan dan upaya pemerintah untuk mendeklarasikan darurat iklim. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penetapan dan penerapan kebijakan untuk menurunkan emisi karbon.

Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Dalam Pembangunan Nasional dan Undang-Undang mengenai Pajak Karbon sebenarnya sudah mengatur mengenai pengurangan emisi karbon di Indonesia. Selain itu, pada Perjanjian Paris 2015 Indonesia juga telah menyusun Nationally Determined Contribution (NDC) yang menyebutkan bahwa Indonesia berjanji bisa menurunkan emisi karbon sebesar 29% pada 2030 dengan catatan bisnis yang ada di Indonesia berjalan seperti biasa, tidak melakukan deforestasi untuk membuka lahan baru.

Insentif Emisi Karbon

Pengurangan emisi karbon tentu bukan tanggung jawab pemerintah semata. Sesuai dengan Prinsip-Prinsip Panduan untuk Bisnis dan HAM yang dikeluarkan oleh PBB pihak swasta juga perlu terlibat untuk mewujudkan bumi yang lebih sehat. Salah satu cara yang bisa pemerintah lakukan demi meningkatkan peran swasta dalam mengurangi emisi karbon yakni dengan pemberian insentif.

Insentif bisa diberikan bagi yang menggunakan energi terbarukan dan rendah karbon. Insentif juga bisa diberikan kepada masyarakat yang menciptakan green building sebagai hunian, kantor, ruang publik, dan sebagainya.

Masyarakat juga seharusnya mulai disadarkan dan bisa menghitung berapa emisi karbon yang mereka hasilkan, baik dari rumah ataupun tempat mereka bekerja. Dengan begitu, masyarakat bisa menyesuaikan keperluan bangunan sesuai dengan perhitungan emisi karbon.

Referensi: