Perubahan Iklim Memaksa yang Rentan Semakin Rentan


  • Tuesday, 08 February 2022 00:00
  • Artikel , Publikasi
  • Telah di baca 3306x oleh pengunjung

Banyak yang belum menyadari kaitan antara perubahan iklim dengan kerentanan dan kemiskinan. Kedua hal tersebut tampak seperti dua dunia yang terpisah. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran bagaimana fenomena perubahan iklim bisa berdampak terhadap mereka yang rentan dan miskin.

Sebelum membedah keduanya, baiknya kita pahami lebih dulu mengapa kita perlu memahami hubungan antara perubahan iklim dan kemiskinan. Kaitan antara keduanya sebenarnya cukup kompleks tetapi setidaknya ada dua perspektif yang bisa digunakan untuk memahaminya.

Pertama, perspektif kemiskinan normatif, yakni pandangan yang melihat kemiskinan dari akibat minimnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjalani kehidupan yang layak. Sementara perspektif kedua melihat kemiskinan secara relatif, menganggap kemiskinan sebagai dampak dari ketimpangan relasi dalam ruang atau kondisi tertentu (Shohibuddin dan Soetarto 2010; Leichenko dan Silva 2014). Di mana salah satu ketimpangan relasi tersebut terjadi seiring dengan munculnya agenda perubahan iklim.

Dalam memahami kaitan antara perubahan iklim dan kerentanan, ada tiga model penjelasan yang bisa digunakan. Pertama, kondisi rentan membuat kelompok miskin berada dalam situasi yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kedua, kebijakan penanggulangan kemiskinan gagal memecahkan masalah kemiskinan karena tidak memperhatikan dampak perubahan iklim. Ketiga, konstelasi sosial-politik yang tumpang tindih dalam merespon perubahan iklim justru semakin memperburuk kerentanan dan kemiskinan.

Kelompok pertama yang paling terdampak dari perubahan iklim adalah kelompok rentan seperti petani, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok marjinal lainnya.

Kondisi kemiskinan membuat mereka terdampak paling nyata dan besar. Negara-negara miskin dan berkembang pada umumnya sangat bergantung pada sektor yang memiliki kerentanan iklim yang tinggi, seperti pertanian, perikanan, dan peternakan. Maka dari itu, setiap kali terjadi gejolak atau bencana akibat perubahan iklim mereka menjadi kelompok yang lebih dulu dan paling berat merasakan dampak.

Kelompok rentan memiliki sedikit aset atau akses modal sebagai basis untuk keluar dari keterpurukan yang diakibatkan perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, pancaroba, gagal panel, dan sebagainya. Ketiadaan akses tersebut membuat mereka tidak punya banyak pilihan dalam menentukan strategi untuk keluar dari keterpurukan.

Kondisi tersebut telah terjadi di kawasan pesisir utara pulau Jawa, khususnya di Indramayu, Jawa Barat. Tingkat prostitusi di kawasan tersebut dikabarkan meningkat seiring dengan menipisnya tangkapan ikan nelayan karena perubahan iklim (Vice.com). Anak-anak gadis nelayan memilih terjun ke dunia prostitusi untuk membantu perekonomian keluarga. Angka putus sekolah juga meningkat seiring tidak mampunya para orang tua membiayai anaknya karena hasil tangkapan ikan yang tidak menentu. Fenomena seperti ini besar kemungkinan banyak bermunculan di kawasan yang paling terdampak perubahan iklim.

Dampak paling mengerikan dari perubahan iklim dirasakan di negara-negara miskin. Kekurangan dari segi sumber daya manusia, kelembagaan, dan keuangan membuat mereka tidak mampu memitigasi datangnya perubahan iklim. Hal ini yang membuat kelompok miskin paling berdampak dibanding kelompok kelas menengah ke atas.

Perubahan iklim berdampak secara langsung dan nyata terhadap hasil panen yang menurun bahkan gagal hingga tangkapan ikan berkurang drastis. Bisa dibayangkan dampak tersebut sangat dirasakan bagi mereka yang tinggal di desa dan di kawasan pesisir yang mengalami peningkatan air laut, gelombang tinggi, cuaca buruk sehingga nelayan tidak bisa melaut.

Selain itu, terjadi juga dampak tidak langsung dari perubahan iklim. Perubahan biasanya terjadi di sektor sosial, budaya, politik dan kesehatan. Sebagai contoh, ketika fenomena perubahan iklim berdampak terhadap tingginya perkembangan penyakit menular, kelompok pertama yang paling terdampak adalah orang miskin. Keterbatasan biaya, akses dan informasi serta layanan kesehatan membuat mereka sangat rentan. Begitu juga jika terjadi instabilitas politik akibat perubahan iklim, maka kelompok yang paling awal merasakan dampak adalah orang-orang miskin.

Pentingnya Regulasi Pengentasan Kemiskinan Berperspektif Perubahan Iklim

Program pengentasan kemiskinan yang selama ini dijalankan pemerintah tidak selalu tepat sasaran. Contoh kasus yang baru-baru ini terjadi adalah fenomena ribuan ASN yang terdaftar sebagai penerima bantuan sosial yang seharusnya bukan hak mereka. Tidak optimalnya penyaluran bantuan sosial (bansos) disebabkan oleh verifikasi dan validasi data kemiskinan yang tidak akurat, pusat data kemiskinan yang tidak berjalan baik, serta pemutakhiran data mulai dari level desa, daerah hingga pemerintah pusat yang jarang dilakukan.

Padahal, bantuan sosial idealnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin untuk mengurangi beban mereka karena terdampak bencana. Kekeliruan data penyaluran bantuan tersebut membuat program seperti ini tidak efektif. Dari sekian banyak program bansos yang disalurkan pemerintah, kehadirannya terkesan hanya sebagai “pemadam kebakaran” saja. Seperti yang telah disebutkan di awal, hubungan antara kemiskinan dan perubahan iklim sangat erat karena keduanya saling mempengaruhi.

Aktivitas manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan membuat kondisi alam semakin rusak dan tercemar. Meskipun banyak gerakan muncul untuk menyelamatkan lingkungan, tapi proses pengrusakan lebih cepat terjadi daripada hasil pemulihan. Maka dari itu, kebijakan dalam merespon perubahan iklim perlu memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan agar lingkungan tetap terjaga keberadaannya. Program perawatan lingkungan yang keliru bisa berdampak fatal terhadap kerusakan lingkungan sehingga berdampak jangka panjang. Jika dibiarkan berlarut, kondisi tersebut bisa menyebabkan bencana seperti yang marak terjadi belakangan ini: tanah longsor, banjir bandang, dan sebagainya.

Perubahan iklim menyebabkan banyaknya bencana yang muncul dan hal itu sangat berkorelasi dengan kemiskinan. Terjadinya kerentanan dan kemiskinan merupakan dampak dari kerusakan lingkungan. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika tingkat kemiskinan akan semakin memprihatinkan di wilayah yang lingkungannya rusak atau tercemar.

Referensi: