Pemberdayaan Ekonomi Perempuan: Upaya Alternatif Membebaskan Perempuan dari Kesenjangan Ekonomi


  • Friday, 02 July 2021 07:23
  • Artikel

Dokumen Global Gender Gap Report 2020 (World Economic Forum, 2019) menunjukkan masih adanya kesenjangan ekonomi antara perempuan dan laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek, misalnya hanya 55% perempuan dewasa yang terlibat di dalam pasar tenaga kerja, dibandingkan dengan laki-laki dewasa sebanyak 78%. Selain itu, pembagian beban tanggung jawab rumah tangga dan perawatan yang sering kali proporsional dan cenderung dibebankan kepada perempuan. Laporan yang sama menunjukkan, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang pun, perempuan dua kali lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan rumah tangga dan perawatan yang tidak berbayar dibandingkan dengan laki-laki.

Hal lainnya, di banyak negara, perempuan sangat dirugikan dalam mengakses kredit, tanah atau produk keuangan yang mencegah mereka memulai perusahaan atau mencari nafkah dengan mengelola aset keuangan. Setidaknya, masih ada di 72 negara (di antara 153 negara yang tercakup dalam Global Gender Gap Report 2021) di mana beberapa wanita dari kelompok sosial tertentu tidak memiliki hak untuk membuka rekening bank atau memperoleh kredit dan di 25 negara di mana tidak semua perempuan memiliki hak waris penuh.

Mengerucut pada kondisi di Indonesia, temuan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menunjukkan, hanya 5% perempuan kepala keluarga yang bekerja di sektor formal, sementara 95% lainnya bekerja di sektor informal. Dari jumlah 95% ini, hanya 7% perempuan kepala keluarga yang dapat mengakses peningkatan kapasitas di tingkat lokal. Fakta ini tentunya semakin menghambat pemberdayaan bagi pekerja perempuan, khususnya di sektor informal.

Melihat kondisi saat ini, penting bagi perempuan untuk berdaya di sektor ekonomi. Meski sampai saat ini belum ada definisi tunggal mengenai Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Sida mendefinisikan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai proses yang meningkatkan kekuatan nyata perempuan atas keputusan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan dan prioritas mereka dalam masyarakat. Pemberdayaan ekonomi perempuan dapat dicapai melalui akses dan kontrol yang sama atas sumber daya dan peluang ekonomi kritis, penghapusan struktur ketidaksetaraan gender di pasar tenaga kerja, termasuk pembagian pekerjaan perawatan tidak berbayar yang lebih baik (Sida, 2009).

Sementara itu, Oxfam mendefinisikan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan secara lebih operasional. Dalam dokumen Oxfam’s Conceptual Framework on Women’s Economic Empowerment (2017) disebutkan bahwa pemberdayaan ekonomi yang efektif bagi perempuan terjadi ketika perempuan menikmati hak mereka untuk mengontrol dan mengambil manfaat dari sumber daya, aset, pendapatan, dan waktu mereka sendiri, dan ketika mereka memiliki kemampuan untuk mengelola risiko dan meningkatkan status ekonomi dan kesejahteraan mereka. Untuk dapat berdaya perempuan harus memiliki otonomi dan kepercayaan diri untuk membuat perubahan dalam hidup mereka sendiri, termasuk memiliki hak pilihan dan kekuasaan untuk mengatur dan mempengaruhi pengambilan keputusan, sambil menikmati hak yang sama dengan laki-laki dan bebas dari kekerasan.

Perempuan memberikan kontribusi yang sangat besar pada perekonomian, baik dalam bisnis, di pertanian, sebagai pengusaha atau karyawan, atau dengan melakukan pekerjaan perawatan tidak berbayar di rumah. Pemberdayaan ekonomi perempuan hadir sebagai salah satu upaya untuk menuju kesetaraan gender, pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif (Economic Empowerment, nd.)

Pertanyaan yang kemudian hadir, apa yang diperlukan agar Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dapat tercapai? Oxfam merangkum, setidaknya terdapat enam faktor yang dapat mendukung realisasi Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Keenam faktor tersebut adalah sebagai berikut: Kemampuan perempuan untuk berpartisipasi dan memimpin dalam pengambilan keputusan dan tindakan kolektif; Kemampuan perempuan untuk mempertahankan pekerjaan dengan upah layak, berpartisipasi dalam atau memimpin perusahaan, atau pensiun dengan tabungan yang cukup; Pengurangan dan pembagian tanggung jawab kerja perawatan; Kontrol perempuan atas pendapatan, aset, dan sumber daya alam dalam rumah tangga dan berhadapan dengan lembaga formal dan tradisional; Kemampuan perempuan untuk hidup bebas dari kekerasan dengan percaya diri, mobilitas, keamanan (tanpa pelecehan), agen, dan organisasi untuk mengakses pasar; Kemampuan perempuan untuk membangun ketahanan mereka terhadap guncangan eksternal, perubahan iklim dan risiko terkait.

Referensi: