DIPERLUKAN AKTIVISME PARA WAKIL RAKYAT



Oleh Muhammad AS Hikam

Sebuah kejutan terjadi di Parlemen AS (House of Representatives): Seorang anggotanya, Ms. Cori Bush (CB) (Demokrat- dari Missouri) melakukan sebuah aksi berupa kamping di halaman Gedung Konggres (Capitol Hill) selama 4 hari berturut-turut. Anggota DPR AS yg masih "gres" alias freshman (baru tahun pertama) itu menuntut agar Pemerintah Joe Biden, yg notabene dari sesama partai Demokrat juga, agar memperpanjang moratorium bagi para penyewa apartemen supaya tidak diusir karena tak mampu membayar sewa mereka. Jumlah para penyewa tsb di seluruh AS tak tanggung-tanggung: 11 juta orang!.

Aksi Cori Bush ternyata membuahkan hasil. Presiden Biden, kendati sempat mewanti-wanti akan kemungkinan kesulitan dari segi hukum, sepakat memperpanjang moratorium selama 60 hari mulai bulan Agustus. Dengan demikian upaya wakil rakyat perempuan kulit hitam berusia 44 th ini, untuk setidaknya melindungi para penyewa yg tak mampu membayar uang sewanya. Waktu tsb dianggap cukup sambil menunggu pencairan anggaran Pemerintah sekitar US $ 46 juta, yg memang diperuntukkan bagi bantuan sewa rumah kaum lapis bawah itu.

Langkah Cori Bush tak pelak mengundang decak kagum banyak kalangan. Bukan hanya karena sang pelaku masih baru, tetapi dalam sejarah politik AS sangat langka terjadi dan, terutama, karena keberhasilannya. Memang salah seorang anggota Parleman lain, Alexandria Ocasio Cortes (AOC) (Demokrat-New York), pada 2018 lalu pernah ikut aksi protes terhadap Ketua DPR, Nancy Pelosi (Demokrat-California), dengan cara ikut "menduduki" ruang kantor sang Ketua. Tetapi dibanding apa yang dilakukan oleh CB, jelas kalah spektakuler, baik dilihat dari isu yg dibawanya maupun signifikansi politiknya. Maka tak heran jika kemudian para politisi senior partai Demokrat, seperti Senator Chuck Schumer (Demokrat-New York) dan beberapa yang lain termasuk AOC dan Ayana Pressley (Demokrat-Massachusetts), ikut "ngobyongi" dan mendukung CB.

Pastinya CB bukan orang baru dalam soal aktivisme politik. Dia adalah seorang aktivis kulit hitam yang ikut dalam aksi protes di kota Ferguson, Missouri, pada 2014 di mana seorang kulit hitam, Michael Brown Jr. (18), ditembak mati oleh seorang polisi kulit putih, Darren Wilson (28). Peristiwa ini telah menciptakan gelombang besar protes-2 yang melahirkan, antara lain, gerakan Black Lives Matter (BLM) pada 2015. CB tentu saja kemudian terlibat aktif dalam BLM yang, kita sama-sama tahu, semakin menonjol dalam perpolitikan AS setelah kasus pembunuhan seorang kulit hitam, George Floyd, oleh polisi pada 2020 yang lalu.

CB terbukti kemudian menjadi sangat populer namanya dan moncer dalam politik. Ia mengalahkan seorang inkamben dari partai Demokrat dalam pileg 2020 untuk Parlemen yang sudah bercokol lama mewakili Missouri. Anggota separtai yg dikalahkan oleh Cori adalah datang dari dinasti politik keluarga Clay, yg sudah menduduki kursi Parlemen lebih dari setengah abad lamanya (melalui Bill Clay dan anaknya, William Lacy Clay)! Ini mengingatkan kepada kesuksesan AOC yang kondang karena memenangi pileg untuk mewakili New York, mengalahkan seorang inkamben, Joe Crowley, yang sudah berada di Parlemen selama lebih dari 20 tahun!

CB, sebagaimana AOC dan Bernie Sanders dkk, adalah para politisi dari sayap progresif kiri dalam partai Demokrat AS. Dengan demikian platform politiknya juga tak jauh berbeda, termasuk pembelaannya terhadap M4A (Medicare for all), anti pengaruh korporasi dalam politik, kritis thd Israel dalam masalah konflik dg Palestina, pro-Green New Deal, dll. Itulah sebabnya ketika ia masuk menjadi anggota Parlemen dan melihat nasib kaum lapis bawah yg akan menjadi korban pengusiran pemilik rumah kontrakan, Cori merasa terpanggil. Dan ketika Parlemen dan Pemerintah yg dianggapnya tetap "mbulet" dalam melakukan proses penganggaran, ia pun melakukan aksi protes dengan kamping di halaman Capitol Hill selam 4 hari! Tak peduli bahwa DPR, Senat, dan Gedung Putih kini sedang dikuasai oleh partainya sendiri!

Hemat saya, apa yang dilakukan Cori adalah wujud aktivisme yg menjadi landasan dirinya masuk politik dan menjadi wakil rakyat. Sebagai orang yg mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi tunawisma (homeless), bagi Cori menjadi wakil rakyat bukan sebuah pekerjaan (occupation), tetapi lebih merupakan sebuah panggilan (calling) untuk melakukan perjuangan bagi kepentingan rakyat banyak, terutama yang berada di lapis bawah. Kendati AS adalah negara adikuasa dan kaya, tetapi faktanya jutaan otrang miskin dan masih terlantar tanpa jaminan sosial yg memadai masih ada. Buat para politisi seperti Cori, AOC, dll, menjadi anggota Parlemen bukanlah sebuah tujuan per se, tetapi sebagai jalan agar perjuangan mereka lebih efektif, walaupun tak selalu berhasil. Dan karenanya, mereka tidak lupa bahwa tetap dibutuhkan keberanian untuk melakukan aksi-aksi protes, karena tak cukup hanya bicara dan beragumentasi di dalam gedung Parlemen saja!

Akankah di negeri kita muncul aktivisme macam ini dari para politisi di DPR/DPD/DPRD? Ataukah mereka malah menjadi contoh kongkrit kelas "parvenu politik" (political parvenu) yang kiprahnya hanya mengatasnamakan rakyat yang "diwakilinya" demi meraih kepentingan-2 pribadi, partai politik, dan kelompok merka? Barangkali sudah waktunya diperlukan politisi-politisi seperti Cori Bush dan AOC di parlemen kita. IMHO

Simak tautan ini:

  1. https://nonpareilonline.com/news/rep-bush-camps-out-at-capitol-protests-evictions/video_8de66e0c-51ba-51a7-ba1b-e5be9f3e1858.html
  2. https://www.harpersbazaar.com/culture/politics/a37191450/cori-bush-camps-outside-capitol-protest-eviction-moratorium-end/
  3. https://thehill.com/homenews/house/565753-house-democrats-camp-outside-capitol-to-protest-evictions
  4. https://www.cbsnews.com/news/cori-bush-missouri-defeats-incumbent-lacy-clay-democratic-primary-election/
  5. https://www.washingtonpost.com/nation/2021/08/04/cori-bush-eviction-moratorium/