Apa yang Dihadapi Perempuan saat Perubahan Iklim



Kebakaran hutan yang terjadi di Turki sejak Rabu, 28 Juli 2021, terus menambah angka banyaknya lahan yang terbakar. Sepanjang tahun 2021, 95.000 lahan terbakar-angka paling tinggi sejak tahun 2008 - 2020 (Shintaloka, 1 Agustus 2021).Melalui kejadian ini, Direktorat Jenderal Meteorologi mencatat suhu di Cizre menyentuh 49,1 derajat celcius (120,3 fahrenheit) pada 20 Juli 2021, di Kota Cizre.Sementara itu, merkuri diperkirakan mencapai 40 derajat Celcius (104 Fahrenheit) di Kota Antalya (Jakarta Post, Juli 2021).

Kejadian di Turki hanyalah satu dari banyaknya kejadian yang memberi sumbangsih pada perubahan iklim. Kondisi perubahan iklim setidaknya dapat diidentifikasi melalui beberapa hal: 1) perubahan musim dan curah hujan; 2) cuaca yang semakin ekstrem; 3) naiknya permukaan air laut; 4) suhu air laut yang lebih hangat; dan 5) suhu dan tekanan udara meningkat (Puspa Dewi, 2012). Meski perubahan iklim diidentifikasi melalui hal-hal yang dekat dengan lingkungan, kondisi ini tidak dapat dipandang sebatas permasalahan lingkungan.

Mempengaruhi berbagai aspek, perubahan iklim memberikan dampak dan tantangan yang besar bagi berbagai sektor, negara, kelas, usia, kelompok, dan tidak terkecuali perempuan. Tentunya dampak dari perubahan iklim juga dirasakan oleh laki-laki, khususnya bagi mereka yang bekerja di sektor sumber daya alam. Meski begitu, dampak yang dirasakan oleh laki-laki dan perempuan nyatanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan ini, secara mendasar, dilatari oleh kondisi sosial, ekonomi, dan kultur. Kerentanan perempuan dalam menghadapi perubahan iklim antara lain terjadi karena perempuan memiliki akses dan kontrol yang terbatas terhadap barang dan jasa lingkungan. Selain itu, partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan kerap diabaikan, bahkan di tingkat tertentu, perempuan tidak dilibatkan di dalam distribusi manfaat pengelolaan lingkungan (Balgis Osman - Elasha, UN).

Selama cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir, perempuan cenderung bekerja lebih banyak untuk mengamankan mata pencaharian rumah tangga. Konsekuensinya, hal ini akan menyisakan lebih sedikit waktu bagi perempuan untuk mengakses pelatihan dan pendidikan, mengembangkan keterampilan, atau mendapatkan penghasilan. Selain itu, perempuan cenderung terlalu terbebani dengan pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, dan kerja-kerja perawatan lainnya. Misalnya, saat tsunami Asia tahun 2004 (70 persen korbannya adalah perempuan), banyak perempuan dan anak-anak terjebak di dalam rumah mereka sementara kebanyakan laki-laki sedang menghabiskan waktunya di luar rumah (Senay, 2016).

Norma budaya dan agama tentang peran gender juga memberikan kontribusi terhadap kerentanan perempuan dalam menghadapi perubahan iklim. Norma budaya dan agama terkadang membatasi kemampuan perempuan untuk membuat keputusan cepat dalam situasi bencana. Dalam beberapa kasus, pakaian yang perempuan kenakan dan/atau tanggung jawab perempuan dalam mengasuh anak dapat menghambat mobilitas perempuan pada saat darurat.

68% (89) dari 130 studi menemukan bahwa perempuan lebih terpengaruh oleh dampak kesehatan yang terkait dengan perubahan iklim daripada laki-laki. Misalnya, perempuan dan anak perempuan lebih mungkin meninggal dalam gelombang panas di Prancis, Cina dan India dan dalam badai tropis di Bangladesh dan Filipina (Daisy Dunne, 2020).

Pada sisi lain, laporan Women Deliver (2021) menunjukkan, perubahan iklim nyatanya dapat berdampak pada meningkatnya kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual; transaksi seksual; dan perdagangan seks, yang dialami oleh perempuan. Ketika sumber daya alam semakin langka akibat perubahan iklim, perempuan kerap menempuh jarak yang lebih jauh dari biasanya untuk menjangkau makanan dan minuman, yang kemudian dapat membuka peluang resiko terpaparnya perempuan pada resiko kekerasan berbasis gender seperti pelecehan seksual, pelecehan fisik, dan lainnya. Hal ini bahkan terjadi di Indonesia. Dalam tulisannya, Mian, L.H., dan M. Namasivayam menyebutkan bahwa perubahan iklim di yang berdampak pada sektor pertanian menyebabkan migrasi perempuan untuk bekerja, yang kemudian menempatkan mereka pada tingginya resiko mengalami kekerasan dan perdagangan seksual.

Hal lainnya, kejadian di Malawi memperlihatkan bagaimana perubahan iklim dapat berpengaruh pada tingginya potensi perkawinan anak. Diestimasikan, sekitar 1,5juta anak perempuan di Malawi beresiko untuk dinikahkan dengan alasan sulitnya keluarga menanggung beban untuk memberi makan dan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Kesulitan ini berkaitan dengan minimnya pasokan sumber daya alam untuk diolah menjadi makanan, yang disebabkan oleh perubahan iklim (Parkinson, Debra & Zara, 2013). Pada peristiwa lainnya, anak perempuan terpaksa putus sekolah guna membantu finansial keluarganya yang terdampak oleh perubahan iklim (Plan International, n.d).

Rentannya perempuan terhadap perubahan iklim, sayangnya, belum berjalan simultan dengan kebijakan yang berspektif gender. Lebih jauh, perempuan cenderung tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan. Meski isu integerasi gender dan perubahan iklim sudah dimuat di beberapa dokumen internasional seperti Paris Agreement, Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW), dan lainnya, perlu upaya-upaya lain untuk memastikan terwujudnya ketahanan perempuan terhadap perubahan iklim.

Menjawab tantangan ini, setidaknya terdapat 5 hal yang dapat dilakukan oleh pemangku kebijakan: 1) Kenali dampak sosial dari perubahan iklim dan tanggapi resiko yang dihadapi oleh mereka yang paling rentan; 2) Libatkan perempuan dalam desain, implementasi, dan pengukuran strategi iklim; 3) Dukung perempuan untuk mempelajari keterampilan yang mereka butuhkan untuk menanggapi dampak krisis iklim, mengambil peran utama dalam aksi iklim, dan meminta pertanggungjawaban para pemimpin; 4) Lindungi perempuan di forum publik sehingga perempuan dapat dengan percaya diri dan aman berbicara tentang perubahan iklim; dan 5) Mewujudkan keadilan iklim sehingga negara-negara yang lebih kaya, yang secara historis bertanggung jawab atas emisi paling banyak, memberikan dukungan bagi orang-orang dan komunitas yang paling terkena dampak krisis iklim (Plan Internasional, n.d.)

Referensi: