Seberapa Paham Warga Indonesia kepada SDG ?


Situasi Komunikasi dan Kampanye Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) di Media

Indonesia bersama 193 negara lainnya hanya memiliki waktu sembilan tahun lagi untuk mencapai target ambisius yang telah direncanakan dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) pada tahun 2030.

Presiden Joko Widodo pada Sidang Umum PBB 2021 menyampaikan inklusivitas adalah prioritas utama kepemimpinan Indonesia, disertai komitmen Indonesia untuk membuktikan no one left behind yang juga menjadi prinsip utama SDGs. Kolaborasi tersebut menekankan upaya multipihak sebagai motor utama percepatan pembangunan, terlebih dalam tekanan situasi pandemi COVID-19. Namun demikian, makna kolaborasi sangat dipengaruhi oleh derajat pemahaman multipihak yang sama mengenai situasi, pengetahuan, rencana dan target agenda pembangunan.

International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) terus berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan SDGs dengan melalui penyusunan kajian, “Derajat Pemahaman Publik: Sebuah Pijakan bagi Kolaborasi SDGs Indonesia”.

Kajian pemahaman publik dilakukan pada Maret hingga Mei 2021 dengan metode kualitatif dengan panel data primer didapatkan dari empat sumber; (a) survei online dengan jumlah 418 responden; (b) analisis wacana di 40 media online nasional dan daerah pada kurun waktu September 2015 sampai dengan Januari 2021, dengan menggunakan perangkat Discourse Network Analysis (DNA); (c) indepth interview dengan 21 informan dari multipihak; (d) FGD multipihak (kelompok perempuan, universitas, anak muda, LSM, disabilitas, pemerintah pusat dan daerah) dengan jumlah peserta 18 orang.

Kajian secara umum menemukan potensi keretakan kolaborasi dalam mewujudkan tujuan SDGs dari perspektif pemahaman publik. Dimulai dari dominasi pembawa pesan dan pertarungan wacana antar pihak dalam memaknai SDGs dan melihat capaiannya. Keretakan kolaborasi semakin nampak pada hasil kuesioner online, yang mengindikasikan minimnya keterlibatan warga yang bermuara dari tidak sampainya informasi mengenai bagaimana cara warga bisa berpartisipasi.

Bila ditelisik lebih dalam, persoalan kolaborasi dalam SDGs ini muncul karena ada kesenjangan pemahaman di antara para pihak terkait dengan SDGs itu sendiri. Derajat pemahamannya pun berjenjang (know what dan know how). Akibatnya, ada pihak yang lebih maju dalam implementasi SDGs melalui kolaborasi, namun, di sisi lain ada yang masih jalan di tempat. Hal itu nampak dari munculnya praktik-praktik baik dalam berkolaborasi, sebaliknya juga masih ada pihak yang masih gamang membedakan SDGs dan MDGs.

Rekaman webinar diseminasi kajian : https://www.youtube.com/watch?v=1YW0e1XbcFY

Karir Lainnya

Guide to the Handling and Facilitation of Women and Children
Suwarno Joyomenggolo 24 June 2021
Laporan Indeks Barometer Sosial 2018
Redaksi INFID 08 February 2019
Partai Politik, Pemilihan Umum dan Ketimpangan Sosial & Ekonomi di Indonesi
Redaksi INFID 16 March 2014
Buku Kertas Kebijakan Kabupaten/Kota HAM sebagai Strategi Pelaksanaan HAM
Suwarno Joyomenggolo 07 August 2017
Report Research on 100 HRC in Indonesia
Suwarno Joyomenggolo 27 July 2019
Press Release INFID: Negara Harus Hadir dalam Membatasi Penyebaran COVID-19
20 March 2020