Donatus Klaudius Marut
Donatus Klaudius Marut
====================
Direktur Eksekutif
=========
Tentang Don K Marut,
Seorang raja di daerah Maluku Tenggara suatu saat melihat seorang laki-laki asing yang sedang terlibat kerja dengan warganya. Raja melihat bagaimana ketekunan laki-laki itu. Rasa penasaran muncul, lalu ia bertanya pada salah seorang warga, “Siapakah laki-laki itu?” Orang yang ditanya oleh Sang Raja hanya bisa menjawab, “Ia seorang konsultan dari Jakarta. Ia mengajak supaya kita tidak memburu penyu, hiu dan lumba-lumba. Ia juga mengajak kita untuk tidak menebang pohon sembarangan.” Laki-laki yang sedang dipercakapkan itu kelak kita kenal bernama Don.
Seberapa penting seseorang terpengaruh oleh orang lain? Dan seberapa penting sebuah peristiwa mencengkeram diri seseorang lalu membalik pengertian akan sebuah dunia? Don kecil punya seorang pastur yang menginspirasi kehidupannya. Setelah besar, sebuah kejadian tentang pertemuannya dengan kera hitam di pedalaman Kalimantan membalik cara pandangnya atas hidup dan alam. Di pendopo INSIST yang teduh dan penuh angin, sambil melahap makan siang dengan lauk tempe bacem kesukaannya, Don menceritakan pengalamannya. Dimulai dari sebuah masa, ketika sabana dan ringkik kuda adalah bagian yang menyatu dalam dirinya.
Pada tahun 1971, sebuah bencana melanda desa Todo, Kecamatan Satarnese, Manggarai, Flores Barat. Sebuah gunung meletus dan mengeluarkan abu pekat yang membuat kering dan gagal penen di daerah tersebut. Berbulan-bulan penduduk desa tersebut terpaksa hidup dari bantuan pangan atau mencari makanan ala kadarnya dari hutan. Bahkan untuk mendapatkan air minum pun, mereka harus jalan kaki berkilo-kilo meter. Namun seorang pastur yang bertugas di daerah tersebut mempunyai ide untuk menyalurkan air lewat batang-batang bambu untuk mempermudah mereka memperoleh air. Kerja dimulai. Kebersamaan mendapatkan menifestasinya. Bahu-membahu mereka, penduduk kampung yang sudah punya tradisi kebersamaan yang panjang itu, menebang dan menyambung batang-batang pohon bambu. Seluruh penduduk, tidak peduli besar atau kecil, laki-laki atau perempuan, tidak peduli kaya atau miskin (ah….apa arti kekayaan ketika alam memberi cobaan seperti itu?). Dan Don kecil menjadi saksi, menjadi pelaku di antara duyunan energi yang dipersatukan oleh kebutuhan bersama. Air mengalir menembus ruas-ruas batang bambu, seperti kebersamaan yang menembus segala sekat perbedaan. Kehidupan berubah. Matahari terlihat lebih indah.
Tapi kebersamaan, sebagaimana sebuah nilai kemanusiaan yang lain, ia membutuhkan ujian lebih lanjut untuk semakin dipercaya tuahnya. Sebuah proyek kebersamaan dimulai lagi. Waktu itu, mereka hendak membuat jalan menuju ke desa mereka. Masih dengan si pastur yang bertangan dingin, ia memformulasikan kerja itu dengan sebuah proyek Participatory Approach to Road Construction. Seluruh sumberdaya dan kemampuan lokal dikerahkan untuk menyelesaikan kerja besar itu. Dan Don kecil, ketika ia besar kemudian, ketika lalu-lintas hubungannya sudah mulai lintas negara, ia baru tahu bahwa apa yang telah dilakukan oleh orang-orang kampungnya itu menjadi salah satu proyek percontohan di berbagai belahan dunia. Hal ini pula-lah yang menginspirasikan Don untuk mempelajari secara khusus collective actions dari sudut pandang ekonomi-politik dan juga memberinya inspirasi untuk mempelajari berbagai metode partisipatoris.
Don kecil tumbuh ditimang waktu, juga masa lalu.
Ia menyelesaikan studinya di SMP dan SMA Seminari di desa kecil bernama Kisol, Kabupaten Manggarai. Dulu, sebelum jalanan itu jadi, ia dan orang-orang di kampungnya membutuhkan waktu kurang-lebih 15 jam untuk sampai ke kota kabupaten dengan jalan kaki maupun dengan berkuda. Buah kebersamaan telah memperpendek waktu dan jarak. Mereka semua menikmatinya, juga Don ketika ia mulai harus menyelesaikan sekolahnya di Manggarai.
Sebagaimana banyak orang yang lain, terutama yang terdidik dan berasal dari luar Pulau Jawa. Don memutuskan untuk ke Jawa, seperti tokoh Minke dalam tetralogi Pram memutuskan untuk ke Batavia. Ia bercita-cita untuk tetap melanjutkan studinya di sekolah tinggi Seminari, tapi karena beberapa hal, Don tidak melanjutkan keinginannya itu. Ia ingin menjadi guru. Hanya sayang, kakaknya telah mendaftarkannya di Fakultas Sosial-politik Universitas Gadjah Mada, jurusan Hubungan Internasional. Ia menyimpan sejenak cita-citanya menjadi guru. Di universitas yang terkenal di Indonesia itu, ia menekuni kuliahnya dengan sangat serius. Hari-harinya dilalui dengan membaca buku, kuliah, dan ia masih menyimpan keinginannya untuk suatu saat, berbekal prestasi yang gemilang (mahasiswa teladan), bisa menjadi dosen. Tapi sebuah peristiwa membalikkan segala keinginannya. sebuah peristiwa yang sangat berarti dalam perjalanan hidup seorang laki-laki yang mempunyai nama lengkap Donatus Klaudius Marut.
Di sela-sela kesibukannya menekuni diktat-diktat kuliah, pria yang berpembawaan kalem ini menjadi seorang guide bagi wisatawan asing. Suatu saat ia membawa serombongan wisatawan mancanegara ke sebuah hutan tropis di daerah Kalimantan Selatan. Dalam sebuah perjalanan jalan kaki melintasi hutan tersebut, Don teringat bahwa salah satu anggota turnya tertinggal di belakang. Seorang pria yang sudah cukup tua. Dengan segera Don balik untuk menyusul pria tadi. Di tengah perjalanan itulah, seekor kera hitam yang besar menghadangnya. Don lemas. Di buku panduan wisata yang ia baca, kera jenis ini terkenal sangat ganas. Ia duduk, dan dengan keseluruhan perasaan yang ada di dalam dirinya, ia berkata,”Ayo, kera….aku tidak mengganggumu…” Di luar perkiraan, kera itu seperti memahami apa yang diucapkan oleh Don.Dan kera itu berlalu begitu saja. Peristiwa itulah yang membuat Don mulai tertarik untuk mempelajari alam dan binatang.
Sepulang dari tur itu, ia sibuk mencari buku-buku yang bisa mengantarnya untuk memahami alam. Sebuah buku karangan Conrad Laurentz berjudul King Salomon’s Ring semakin membuatnya yakin bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan antar makhluk bisa saling berbagi dan berkomunikasi. Buku lain yang semakin memperkokoh keyakinannya adalah The Silent Spring karangan Rachel Carson. Tetapi pemahaman alam yang menuju ke tingkat tindakan didapatkan Don dari buku-buku Henry David Thoureau. Henry yang mempunyai pemikiran tentang Civil Disobedience mengajarkan kepada Don bahwa pada tingkat tertentu, tindakan perlawanan dan pembangkangan harus dilakukan jika aparatur negara justru tidak melindungi kepentingan warganya. Warga berhak untuk tidak patuh membayar pajak jika, misalnya, negara membiarkan penebangan pohon yang merugikan banyak orang dan mengancam kelestarian alam.
Keinginan untuk mengajar dan menjadi dosen telah terselip dalam buku-buku ekologi yang didalami oleh Don sekalipun ia telah lulus dari studinya. Dan penguasaannya atas materi-materi ekologi mengantarnya menjadi seorang konsultan bagi banyak proyek baik swasta maupun pemerintah yang melibatkan faktor alam. Dari sana, Don melihat dengan mata kepala sendiri betapa kolusi mewarnai praktik ekonomi-politik negara ini. Tender-tender yang hanya formalitas belaka, main sogok, kolusi, adalah peristiwa yang nyaris saban waktu disaksikannya. Pengalaman masa kecil kembali menyelinap. Don teringat bagaimana ketika ia masih kecil sering menyaksikan kunjungan pejabat-pejabat. sekolah libur, latihan menyanyi dan baris-berbaris, pakaian harus baru, dan semua itu hanya untuk menyambut serombongan makhluk korup yang bernama pejabat. pada tingkat tertentu, kompromi sudah tidak lagi bisa dilakukan. Don mengemas barang. Ia pergi dari tempatnya bekerja, tempat yang basah oleh uang dan kuasa. Pada banyak orang, penderitaan adalah pilihan. Don telah memilih hidupnya dengan kepala tegak.
Kemampuannya dalam bidang ekologi membuat banyak institusi melirik Don. Tapi kemudian ia malah memilih OXFAM sebagai tempat beraktivitas. Saat itu ia belum tertarik dalam dunia NGO, apalagi setelah di OXFAM dia tahu banyak praktik di dunia LSM yang tidak punya andil bagi proses kemanusiaan. Seperti guntur yang mengguruh di langit. Kerja-kerja LSM dilihatnya tidak mampu melihat dengan mendalam kebutuhan masyarakat, sehingga kebanyakan hanya menghasilkan dua hal: isunya saja yang membesar tanpa ada perubahan di tingkat masyarakat, atau kebijakan yang turun salah urus dan salah tempat. Dua hal yang sama-sama tragis.
Dalam kebimbangan seperti itu, kebetulan OXFAM memberinya kesempatan untuk pergi ke India. Di negara tersebut, barulah Don terbuka matanya. Ada sesuatu yang bisa dilakukan. Di sana ia melihat sebuah contoh yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh sebuah organisasi rakyat yang bernama Friends of Trees and Living Beings. Kesempatan untuk belajar langsung dari kerja organisasi rakyat itu tidak disia-siakan. Ia mencerapnya, dan berharap pulang untuk segera mempraktikannya. Dan waktu, membawanya ke sebuah pengalaman hidup yang lain: daerah Maluku Tenggara.
Sejak Tahun 2006 – sekarang beraktifitas di INFID menjadi Direktur Eksekutif
==============
Email : don@infid.org; infid@infid.org
Telp : 0811 9671 327











