UNDANGAN RTD – G20 DAN INDONESIA

 

Kepada Yth.
Kawan-kawan
Di
Tempat

Dengan hormat,

INFID bekerjasama dengan World Vision Indonesia menyelenggarakan Rountable Discussion dan Lokakarya Diskusi Terbatas dengan tema “Implementasi Komitment-Komitment Indonesia Di G20 Dan Perjuangan Kepentingan Nasional Pembangunan Indonesia Di G20”. Sehubungan dengan kegiatan tersebut, kami mohon kepada Bapak/Ibu/Sdr. untuk hadir sebagai Peserta dalam acara yang akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Senin, 30 April 2012
Waktu : 10.00 – 16.30. wib
Tempat : Hotel Grand Cemara, Jl. Cemara No.1, Jakarta Pusat
Agenda : (terlampir)

Demikian surat permohonan ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr. kami ucapkan banyak terima kasih.

Hormat kami,

 

 
Don K. Marut
Direktur Eksekutif INFID

Latar Belakang

Organisasi Masyarakat sipil telah memberikan perhatian serius pada proses G-20 yang jelas menunjukan dominasi peran Negara dalam menetapkan fungsi pasar dalam arsitektur financial global. Ada dua tipologi organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam advokasi G-20, yakni Organisasi masyarakat sipil yang termasuk tipologi pembangunan dan termasuk tipologi gerakan.

Organisasi masyarakat sipil yang termasuk tipologi gerakan, terbagi menjadi dua bagian besar. Pertama adalah OMS Gerakan yang masih berharap G-20 dapat menyuarakan kepentingan rakyat dan perimbangan Negara maju-negara berkembang. Mereka menitikberatkan poin-poin keberatan khusus agar G-20 dapat memperbaiki diri. OMS gerakan jenis kedua adalah yang memandang G-20 sebagai antek-antek kapitalisme.

OMS gerakan jenis pertama misalnya Global Campaign for Education yang menyuarakan agar G-20 dapat menitikberatkan sektor pendidikan sebagai rencana jangka panjang berkelanjutan bagi upaya pembangunan. Save the Children pun menyuarakan agar G-20 memperluas dampak mereka sebagai sebuah forum dengan mendukung program-program Tujuan Pembangunan Millenium khususnya poin mengenai angka kematian ibu dan anak.

OMS gerakan jenis kedua adalah OMS yang secara terus terang menolak legitimasi G-20 sebagai forum global. Gerakan ini ditunjukan oleh OMS yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Lawan Neokolonialisme Imperarialisme (GERAK LAWAN) yang terdiri dari: Serikat Petani Indonesia, Serikat Buruh Indonesia, Koalisi Anti Utang, Institute for Global Justice, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, Wahana Lingkingan Hidup Indonesia, dan Sarekat Hijau Indonesia. Mereka menyatakan bahwa G-20 tidak memiliki legitimasi sebagai forum pengambilan keputusan untuk rakyat di seluruh dunia.

GERAK LAWAN menuntut pemerintah Indonesia agar G-20 tidak menjadi ajang penciptaan utang baru yang merugikan rakyat dan menjadi beban bagi pemerintahan berikutnya. Tuntutan ini dilancarkan mengingat utang Indonesia saat ini sudah terlampau besar dan menjadi beban ekonomi nasional dan perekonomian rakyat.

Peran pengarusutamaan yang lebih soft dilakukan agar agenda G-20 sejalan dengan agenda OMS-OMS dengan harapan G-20 tidak ekslusif tetapi juga dapat mewakili kepentingan Negara maju dan Negara berkembang secara berimbang sekaligus mewakili seluruh kelas masyarakat dunia.

OMS yang melakukan advokasi terhadap G-20 jelas, tidak memiliki posisi dan sikap yang sama. Mereka memiliki agenda yang beragam, isu spesifik yang menjadi titik penekanan tiap OMS pun bervariasi, tidak terbatas pada isu ekonomi sebagai isu utama yang diangkat dalam forum G-20. Ragam isu yang diangkat Masyarakat sipil ini sejalan dengan ragam isu yang dibahas dalam G-20 yang tidak hanya sebatas persoalan financial, melainkan meluas pada isu-isu non financial seperti isu demografi (2004-2006) energy ramah lingkungan (2007-2008), keamanan energy dan perubahan iklim, ketahanan pangan, pasar energy dan isu perburuhan (2009). Isu-isu non keuangan ini disadari akan berdampak pada isu-isu keuangan.

Berkaitan dengan itu, INFID bekerjasama dengan World Vision Indonesia akan melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan G20. Setelah melakukan rountable discussion dan lokakarya, tanggal 28 Maret 2012, yang dihadiri oleh CSO, Pemerintah, dan Parlemen. Maka sekarang rountable discussion dan lokakarya dilakukan khusus untuk Organisasi Masyarakat sipil Indonesia yang memiliki kerja advokasi berkaitan dengan isu-isu yang juga dibahas dan menjadi perhatian G-20. Hasil rountable discussion dan lokakarya ini, akan menjadi bahan pertemuan media dan diplomat briefing yang akan dilaksanakan pada bulan mei 2012.

Tujuan:
a. Konsolidasi NGOs yang bergerak dalam issue-issue yang menjadi fokus advokasi dan kerja lapangan dari NGOs.
b. Membangun synergy antar-NGOs untuk engagement dengan pemerintah.
Peserta: dalam lokakarya akan dibagi menjadi 6 kelompok, sesuai dengan fokus kerja Organisasi Masyarakat sipil yang diharapkan hadir, yaitu:
1. Food security, termasuk di dalamnya nutrisi.

2. Financial inclusion:

3. Rural infrastructure:

4. Human resources development:

5. Anti-korupsi dan Accountability:

6. Climate change:

Alur:
1. Dialog Sherpa dan Narasumber dan Masyarakat Sipil: 10:00 – 12:00
• Bapak Dr. Mahendra Siregar, Wakil Menteri Keuangan RI dan Sherpa Indonesia untuk G 20.
• Bapak Dr.Yulius Poerwadi Hermawan, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
2. ISHOMA: 12:00 – 13:00
3. Lokakarya: 13:00 – 16:30
• Diskusi Kelompok : 13.00 – 15.00
• Diskusi Pleno : 15.00 – 16.30
Tempat: Hotel Grand Cemara, Jl. Cemara No.1, Jakarta Pusat.

Hari, Tanggal : Senin, 30 April 2012

Moderator untuk Round-table:

• Ibu Dian Kartikasari: Direktur Koalisi Perempuan Indonesia

Fasilitator untuk Workshop:

• Bapak Don K. Marut, Direktur Eksekutif INFID

Round-table dan Lokakarya ini, sangat penting agar Organisasi Masyarakat sipil dapat mengadakan sharing informasi yang substantif, sehingga issue-issue yang diperjuangkan Indonesia dalam forum G-20 dapat dikoordinasikan dengan baik dan sistematis.

Leave a Reply