Natal dan Indonesia Baru
Kompas, Sabtu, 24 Desember 2011 | 02:22 AM
Wahyu Susilo
Selama bulan Desember, dua kali saya menjumpai spanduk iklan perusahaan pengamanan swasta yang menawarkan jasa pengamanan gereja dari ancaman bom. Dada saya sesak membaca iklan tersebut.
Pastor dan pendeta dalam khotbah mereka selama Adven (masa menjelang Natal) selalu menjanjikan, Natal akan membawa terang dan damai. Namun, dalam realitas di Indonesia, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, peringatan Natal selalu diiringi dengan ketegangan. Terjadi peristiwa peledakan bom di beberapa gereja di Indonesia.
Seminggu menjelang Natal, biasanya kita juga disuguhi pemberitaan tentang kesiapan aparat keamanan untuk mengamankan ibadah Natal. Gereja-gereja di-sweeping polisi untuk memastikan tidak ada benda yang mencurigakan di kawasan ibadah.
Jika kita merayakan Natal di Gereja Katedral, Jakarta, prosedur pengamanannya membuat kita seperti masuk ke Istana Presiden. Hingga kapan model pengamanan ini berlangsung? Saya kira, umat yang merayakan Natal di gereja merasa lebih aman jika tak ada pengamanan yang berlebihan
Saya ingat masa kecil di kampung. Setiap ada perayaan Natal, ”pengamanan” ibadah dibebankan kepada Muda-mudi Katolik (Mudika). Pengamanan tidak untuk menjaga gereja karena tidak ada ancaman gangguan, tetapi hanya untuk mengatur parkir dan lalu lintas di sekitar gereja. Tak ada pikiran bahwa ibadah Natal akan terganggu.
Persoalan lainnya, setiap Minggu, setidaknya satu tahun terakhir ini, saya membaca semangat kawan-kawan GKI Yasmin Bogor yang tak kenal lelah memperjuangkan terjaminnya hak beribadah. Semangat yang sama tecermin dalam perjuangan kawan-kawanAhmadiyah dan kelompok minoritas lainnya. Namun, hak ini tak mudah diperoleh.
Tentu saja situasi ketegangan yang tecermin dalam model-model pengamanan Natal, dan juga adanya realitas bahwa jaminan hak beribadah di negara ini belum sepenuhnya terpenuhi, tidak menyurutkan kita untuk merayakan Natal. Ingat, Yesus dilahirkan dalam situasi yang serba berkekurangan.
Merayakan Natal tentu tidak cukup hanya dengan beribadah. Kandungan terbesar dari spirit Natal adalah semangat pembebasan. Kita masih sangat membutuhkan semangat pembebasan untuk mewujudkan Indonesia baru. Indonesia yang bebas dari kemelaratan, bebas dari kekerasan, bebas dari korupsi, bebas dari eksploitasi.
Wahyu Susilo Aktivis HAM dan Analis Kebijakan Migrant Care

