Archives for November2011

LSM sikapi KTT ASEAN

Denpasar (ANTARA News) – Koalisi sejumlah lembaga swadaya masyarakat menjadwalkan serangkaian kegiatan, termasuk pengerahan massa, guna menyikapi penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 17-19 November 2011.

Dalam media advisory atau laporan untuk media yang diterima ANTARA di Denpasar, Selasa malam, koalisi LSM dalam agenda kerakyatan itu mengangkat tema “Membangun Regionalisme Yang Berdaulat, Bongkar dan Lawan Dominasi Kapitalisme Global”.

Koalisi yang didukung puluhan LSM seperti Walhi, Serikat Petani Indonesia (SPI), Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) dan Kiara itu, menjadwalkan serangkaian kegiatan pada 16-18 November 2011, di antaranya merencanakan aksi masa di Lapangan Puputan Renon, Kota Denpasar.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa hampir 44 tahun setelah pendiriannya, tantangan ASEAN tetap pada jalinan kerja sama yang benar-benar memberikan manfaat langsung bagi rakyatnya. Saat ini, ASEAN masih sangat jauh dari hal tersebut.

Laju investasi asing dan liberalisasi membuat sektor-sektor yang penting bagi rakyat terseret ke dalam rancangan koridor ekonomi, serta integrasi barang dan jasa pada rantai pasokan global (RPG).

Pertumbuhan perdagangan bebas serta agenda privatisasi yang dibarengi kegagapan ASEAN berdemokrasi, telah berujung pada diskriminasi, pemiskinan dan menjauhkan rakyat dari aksesnya terhadap sumber penghidupan.

Karena itu bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ke-19 dan KTT Asia Timur ke-6 di Bali, gerakan rakyat di Indonesia akan menyikapi isu-isu yang penting di ASEAN sesuai agenda kerakyatan tersebut.

Serangkaian kegiatan dijadwalkan pada Rabu-Jumat (16-18/11) di Aula Fakultas Hukum Universitas Udayana, Jalan Pulau Bali No.1 Sanglah, Kota Denpasar, dengan pemusatan aksi massa di Lapangan Puputan Renon.

Kegiatannya meliputi stadium general, KTT ASEAN: Apa yang dipertaruhkan dan isu-isu mengenai Asia Timur. ASEAN dan pengaruhnya untuk keamanan regional. Tentang MP3EI dan dampaknya terhadap rakyat Indonesia. Persoalan agraria nasional dan tuntutan petani serta nelayan, selain menyoal perkebunan dan MIFEE.

Kemudian mengenai krisis sumber penghidupan menyoroti sektor FTA dan dampaknya terhadap sektor perikanan, kelautan dan air. Kondisi perburuhan di kawasan ASEAN, buruh Migran dan agenda kapitalisme global di ASEAN, serta pendidikan digerus liberalisasi dan agenda mahasiswa untuk rakyat yang berdaulat.

Tribunal bagi perusahaan penjajah kawasan membahas perusahaan Eropa pelahap air rakyat Indonesia seperti Suez, Nestle, Danone, Coca-Cola/Ades, perusahaan tambang di antaranya Newmont, Freeport, PTTEP Australasia, serta perusahaan pengeruk hasil perikanan dan pertanian (Charoen Pokphand).

Koalisi gerakan rakyat itu juga akan membuat perumusan deklarasi rakyat dan konferensi pers, dengan aksi “Membangun regionalisme yang berdaulat. Bongkar dan lawan dominasi kapitalisme global”.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Gendo Suardana (Walhi Bali) di 0856 3700 677 / wayan.gendosuardana@gmail.com, Mohammed Ikhwan (SPI) 0819 320 99596 / m.ikhwan@gmail.com, Teguh Surya (Walhi) 0811 820 4362 / teguh.surya@gmail.com, Mida Saragih (Kiara) di 0813223 066 73 / ms.mida.saragih@gmail.com dan Hendrik Siregar (Jatam) 08526 91 35520 / beggy@jatam.org.

Pelaksana pertemuan meliputi Serikat Petani Indonesia (SPI), Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Aliansi Petani Indonesia (API), Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI), dan Frontier Bali.

Kemudian Pers Kampus Kertha Aksara FH Universitas Udayana, BEM PM Universitas Udayana, Semada Papua, FMN Denpasar, KMHDI, GMKI, GMNI, Walhi, Walhi Bali, KPA Bali, PBHI Bali, LBH Bali, Yayasan Wisnu Bali, Sloka Institute Bali, PPLH Bali, Yakeba, IKON Bali, Limas Bali, Mitra Bali, Komunitas Akar Rumput, Bali Organic Association, Koalisi Anti Utang (KAU), Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan Institute for Global Justice (IGJ).

Selain itu Bina Desa, Sawit Watch, Institute for National and Democratic Studies (INDIES), Resistance Alternative to Globalization (RAG), Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KrUHA), Foker LSM Papua, Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMA), serta Solidaritas Perempuan (SP). (T007/Z002)

sumber : http://www.antaranews.com/print/284903/lsm-sikapi-ktt-asean

 

Kelas Menengah dan Ancaman Krisis Global

Oleh: Launa
17 November 2011
Konsumen kelas menengah Indonesia ternyata masih cukup kenyal menghadapi ancaman krisis global yang kini tengah menimpa kawasan zona Eropa dan Amerika Serikat.

Data ini tercermin dari hasil survei dalam jaringan (daring) Nielsen terhadap sekitar 28.000 konsumen kelas menengah di 56 negara selama Agustus-September 2011, di mana konsumen kelas menengah daring Indonesia paling optimistis dengan kondisi finansial mereka tahun depan.

Ditelisik dari sisi keuangan dan kemanan bekerja, sebanyak 86 persen dari 500 responden konsumen kelas menengah yang berasal dari Indonesia merasa optimis atas kondisi keuangan yang tak terlalu dipengaruhi oleh situasi krisis ekonomi global hingga satu tahun ke depan.

Sementara 69 persen responden juga tak merasa khawatir dengan keamanan pekerjaan mereka.

Namun demikian, data survei juga menunjukkan, konsumen Indonesia ekstra hati-hati dalam membelanjakan kelebihan uangnya, di mana menabung masih menjadi pilihan terbanyak (67 persen), angka tertinggi di Asia Pasifik.

Adapun tingkat pengeluaran konsumsi rata-rata konsumen Indonesia adalah membeli produk teknologi baru (30 persen), liburan (28 persen), investasi saham (24 persen), dan membayar pinjaman/kartu kredit (21 persen).

Optimisme ini juga didukung oleh hasil survei lembaga peringkat utang internasional seperti Fitch, Moody’s, dan Standard & Poor’s (S&P) yang menyebutkan, di tengah banyaknya negara di Eropa terlilit krisis utang dan sejumlah negara lain mengalami perlambatan ekonomi, kinerja ekonomi RI justru bekerja sangat gemilang.

Kekuatan pasar domestik diikuti melesatnya pertumbuhan kelas menengah RI, serta basis ekspor yang didominasi sumber daya alam (SDA) menjadi modal besar untuk menghindarkan negeri ini dari pengaruh kisruh ekonomi global.

Berbagai data yang dirilis pada kuartal III-2011 juga bertabur sentimen positif, baik dari sisi mikro maupun makro ekonomi. Kinerja emiten kuartal III-2011 rata-rata membukukan laba bersih di atas 20 persen, bahkan sektor perbankan mencatat laba bersih di atas 30 persen, dan banyak emiten sektor tambang labanya naik di atas 100 persen.

Dari sisi makro ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS), pada awal November lalu juga mengumumkan produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2011 tumbuh 6,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), dibanding kuartal II-2011, di mana PDB Indonesia hanya tumbuh sebesar 3,5 persen. Sentimen positif lain terkait data pengangguran.

Menurut data BPS, tingkat pengangguran terbuka turun dari 8,12 juta orang (6,8 persen) pada Februari 2011 menjadi 7,7 juta orang (6,56 persen) pada Agustus 2011.

Meski kriteria pengangguran versi BPS banyak digugat, setidaknya potret ini menunjukkan sektor riil Indonesia juga bergerak. Kalau toh ada pengaruh, kemungkinan di pasar uang dan pasar modal, itu pun hanya sementara karena investor akhirnya menyadari bahwa Indonesia tempat yang cukup aman dan menguntungkan bagi investasi mereka dibanding negara lain.

Menjaga Daya Beli Kelas Menengah
Data Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan, jumlah kelas menengah di Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir melonjak cukup tajam. Dalam laporan berjudul “The Rise of Asia’s Middle Class 2010″, disebutkan, jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2009 mencapai sekitar 42,7 persen atau 93 juta jiwa dari total penduduk. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan 1999 dimana jumlah kelompok kelas menengah tercatat 45 juta jiwa atau 25 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan, pada 1990 jumlah kelas menengah baru 32 juta jiwa. Data yang dirilis Bank Dunia (BD) malah menunjukkan angka yang lebih tinggi lagi. Tahun 2010 kelas menengah Indonesia mencapai 134 juta jiwa atau 56,5 persen dari jumlah penduduk.

Indonesia menjadi negara dengan persentase pertumbuhan kelas menengah yang tertinggi di kawasan ASEAN, yakni 38 persen. Indonesia berperan kentara dan sangat menentukan karena menyumbang kenaikan kelas menengah terbesar di Asia setelah Cina dan India.

Di level regional, survei ADB menyebut kelas menengah di Asia menjadi penyumbang pertumbuhan global yang sebelumnya selalu  didominasi Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Menurut survei itu, orang Asia membelanjakan lebih dari 4,3 triliun AS pada 2008. Sementara itu, hasil survei Susenas yang dirilis BPS menyebutkan, pada 1999 dan 2009, kelompok menengah dengan pengeluaran antara 4-10 dolar AS per hari melonjak hampir tiga kali lipat, dari 7,5 juta jiwa menjadi 22 juta jiwa.

Bahkan khusus kelompok menengah atas dengan pengeluaran 10-20 dolar AS per hari angkanya meningkat tajam lima kali lipat dari 0,4 juta jiwa menjadi 2,23 juta jiwa.

Bertambahnya kelas menengah merupakan sinyal baik bagi pertumbuhan ekonomi. Merekalah konsumen potensial yang mampu membangkitkan pergerakan ekonomi produktif.

Mereka adalah motor konsumsi pangan, barang-barang elektronik, kendaraan bermotor, dan berbagai produk (barang dan jasa) lainnya.

Selain sebagai mesin pergerakan ekonomi, kelas menengah juga diakui berperan penting dalam mengatasi gejolak sosial akibat kekurangan pangan dan harga pangan yang kian mahal.

Mereka bisa menjadi jembatan untuk mengurangi kesenjangan antara kelompok super miskin yang jumlah mencapai 32 juta dan kelompok super kaya di Indonesia.

Kelas menengah diharapkan dapat menjembatani dan mempersempit kesenjangan sosial-ekonomi antara kelompok super miskin dan kelompok super kaya yang masih menjadi persoalan krusial di Tanah Air.

Pengalaman di Eropa dan Amerika di masa awal abad pencerahan serta negara-negara Asia (terutama Indonesia) di masa krisis menunjukkan upaya untuk memperluas kelas menengah merupakan cara terbaik mencapai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, kokoh, dan berkelanjutan.

Di luar peran ekonomi, kelas menengah juga dipercaya sebagai penjaga demokrasi dan nilai nilai moral dalam masyarakat. Independensi mereka merupakan angin segar dalam kehidupan demokrasi. Kelas menengah adalah moral kekuaran yang merepresentasikan kehendak rakyat.***

Launa, Dosen FISIP Universitas Satya Negara Indonesia, Jakarta.

sumber : http://www.riaupos.co.idKelas Menengah dan Ancaman Krisis Global/opini.php?act=full&id=398&kat=1#.TsRxnr5g2zk.facebook