Studi Sungai Ciliwung – INFID

PENDAHULUAN

Jakarta Emergency Dredging Initiative atau biasa disebut JEDI adalah proyek utang kerjasama Pemerintah Indonesia dalam hal ini Pemerintah Pusat dan Daerah, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan Bank Dunia. Pembahasan mengenai kerjasama proyek dilakukan sejak tahun 2008, setelah Jakarta mengalami banjir besar di tahun 2007. Banjir inilah yang menjadi alasan pemerintah juga Bank Dunia mengucurkan utang JEDI, agar banjir yang terjadi bisa ditanggulangi. Berdasarkan dokumen milik Bank Dunia, terdapat dua tujuan utama dari JEDI; pertama, mengurangi dampak banjir tahunan di DKI melalui perbaikan dan pengerukan jalur banjir, saluran air, dan waduk berdasarkan standard internasional; kedua, menyediakan tenaga ahli melalui pelatihan (magang) untuk memperkuat kapasitas Pemerintah DKI Jakarta dan Kementerian Pekerjaan Umum dalam mengoperasikan dan merawat sistem pengendalian bajir, menurut standard internasional (Report No. AB4043, 2008)

 

JEDI sesungguhnya bukan proyek pertama pengerukan sungai di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah beberapa kali melakukan pengerukan sungai guna mengurangi banjir. Bahkan pengerukan juga pernah dilakukan Belanda saat Jakarta masih bernama Batavia. Namun menurut ahli Bank Dunia, Risyana Sukarma, yang dimuat di Jakarta Post (18 April 2008), proyek pengerukan sungai Bank Dunia ini berbeda dengan pengerukan biasa. “Compared to the usual dredging, this mass dredging uses “state-of-the-art” equipment and methods from the Netherlands, where advanced water management technology has proven reliable,” – (Dibandingkan dengan pengerukan yang biasa yang dilakukan, ini merupakan pengerukan besar menggunakan peralatan “state of the art” dengan metode dari Belanda di mana tekhnologi pengelolaan air terbukti handal) – a senior expert with World Bank Indonesia. Risyana menambahkan “What is different about the new method is that it will be programmed and be performed regularly.” – (Apa yang membedakan adalah metode yang akan diprogram dan digunakan secara regular).

Perbedaan tersebut menurut Bank Dunia sesuai dengan standard internasional yang sejak awal ditekankan dalam dokumen proyek JEDI. Perbedaan ini juga diakui Bank Dunia membawa konsekuensi pemindahan paksa penduduk yang tinggal di bantaran sungai. Dokumen Bank Dunia lainnya (Report No AC3822, 2008) menyebutkan ada sekitar 5.450 tempat tinggal yang harus digusur dari lokasinya sekarang yang terkena proyek JEDI.

 

Dokumen proyek (Report No AB4043, 2008) juga menyebutkan terdapat tiga komponen proyek yang akan dikerjakan sampai tahun 2011, terdiri atas;

Pertama, komponen A terdiri atas pengerukan, pemeliharaan tanggul sungai, dan perbaikan pompa. Ketiga hal tersebut menelan biaya USD 82 juta untuk pembangunan:

-          Pengerukan di 16 lokasi saluran pembuangan air (drains) meliputi tiga aluran nasional (Tanjungan, Lower Angke, Cideng – Thamrin), tiga kanal banjir (floodways) di bawah wewenang Departemen Pekerjaan Umum (Cengkareng, Banjir Kanal Barat), dan Sunter), lima saluran pembuangan air utama di bawah wewenang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Ciliwung – Gunung Sahari, Sentiong – Sunter, Grogol – Sekretaris, Pakin – Kali Besar – Jelakeng, Krukut), lima waduk (retention basin) di bawah wewenang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Waduk Pluit, Waduk Sunter Utara, Wasuk Sunter Selatan, Waduk Sunter Timur III, Waduk Melati)

-          Perbaikan tanggul dan perbaikan pompa, meliputi: tiga saluran air nasional (Tanjungan, Lower Angke, Cideng-Thamrin), satu kanal di bawah wewenang Departemen Pekerjaan Umum (DPU) (Cengkareng), atau saluran air utama di bawah wewenang  Pemprov DKI Jakarta (Pakin-Kali Besar-Jelakeng), dan lima waduk di bawah wewenang Pemprov DKI Jakarta (Waduk Pluit, Waduk Sunter Utara, Waduk Sunter Selatan, Waduk Melati dan Waduk Sunter Timur II).

 

Kedua, komponen B untuk pembangunan lokasi sampah kerukan dengan biaya USD 68,5 juta:

Bank Dunia memperkirakan dari pengerukan 16 lokasi akan menghasilkan sekitar 7,5 juta sampai 9,5 juta m3 sampah kerukan. Sampah ini akan dibawa Ancol guna mendukung proses reklamasi. Gambar proyek JEDI di bawah ini menunjukkan hasil kerukan akan di buang ke tiga lokasi yaitu Muara Kali Adem, Ancol, dan Muara Banjir Kanal Timur atau Marunda.

Ketiga, komponen C untuk pengembangan kapasitas dengan biaya USD 9 juta.

Terdapat tiga komponen dalam pengembangan kapasitas yaitu bantuan teknis (technical assistance), pengembangan kapasitas (capacity building), dan pengukuran non struktur (non-structural measures).

 

Total biaya yang diperlukan untuk menjalankan keseluruhan proyek sebesar USD 159.5 juta. Tanggung jawab pembayaran utang akan ditanggung oleh pemerintah pusat dan pemerintah propinsi DKI Jakarta di mana Pemerintah DKI Jakarta harus membayar USD 63 juta selama sepuluh tahun.

download

 

Social tagging: >

Leave a Reply