Rote dan “adiknya”, Ndao, adalah “sepasang” pulau paling selatan Nusantara. Keduanya merupakan bagian dari Rote Ndao, kabupaten baru di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hasil pemekaran Kabupaten Kupang. Salah satu potensi kekayaannya yang menonjol adalah lontar.
Itu adalah sejenis palem dengan ketinggian sampai 30 meter, yang tumbuh secara alami dan berkembang di seluruh kecamatan seluas 13.000 hektare lebih, dengan ditumbuhi lebih dari 5 juta pohon. Ini membuat Rote sering disebut Pulau Lontar.
Lontar (Borassus flabellifer) umumnya tumbuh subur dan melimpah di tanah tandus dan lingkungan tropis seperti di Pulau Rote. Bagi masyarakat Rote, lontar merupakan “pohon kehidupan”, karena manfaatnya mewarnai seluruh aspek kehidupan dan tatanan budaya masyarakat. Orang Rote punya filosofi “mao tua do lefe bafi” yang berarti kehidupan dapat bersumber dari mengiris tuak dan memelihara babi.
Secara tradisonal, orang Rote membuka kampung melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Untuk itu, pusat permukiman pertama orang Rote selalu berada pada kawasan yang banyak ditumbuhi pohon lontar. Bagi orang Rote, yang kebanyakan petani, peternak dan nelayan, sepanjang Mei hingga Oktober (musim kemarau), kehidupan mereka sebagian besar dihabiskan dengan menyadap nira lontar. Di luar bulan itu mereka kembali ke sawah atau berkebun.
Secara tradisional, pekerjaan menyadap nira lontar menjadi tua manis adalah tugas kaum dewasa. Para lelaki bertugas menyadap nira di atas pohon. Setelah itu hasil sadapan nira lontar segar, yakni tua manis, dikelola oleh perempuan, termasuk memasaknya menjadi gula.
Orang Rote, merasa “belum makan” kalau belum minum tua manis atau gula air. Mereka merasa lebih kuat dan bertenaga setelah minum tua manis atau gula air. Dengan kebiasaan inilah seorang peneliti Barat, Scarfman, menyebut penduduk Rote, “orang yang tidak makan”. Hal ini terjadi karena mereka lebih banyak “minum” daripada memakan makanannya.
Manfaat Lontar
Semua bagian pohon lontar dapat dimanfaatkan. Hasilnya dapat berbentuk nira, buah, daun, pelepah, dan pohon atau batang lontar. Gula nira hasil penyadapan selain bernilai ekonomis, juga merupakan makanan pokok mereka. Batangnya dibuat bahan papan, pelepahnya dibuat dinding rumah dan kayu bakar.
Daun lontar dibuat atap, haik (ember dari daun lontar), ti’ilangga, semacam topi sombrero khas Rote, yang biasanya hanya digunakan lelaki, dan sasando, alat musik khas Rote. Sementara itu, perdagangan gula nira hingga ke luar pulau terbukti mampu membiayai kehidupan keluarga, termasuk membiayai sekolah anak-anak.
Menurut penelitian James Fox, ahli Timor dari Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra, Australia, praktik pengambilan nira di Rote menghasilkan jumlah nira yang beragam selama semusim. Namun, jumlah nira sangat ditentukan oleh jumlah mayang yang disadap.
Sebatang lontar dengan lima mayang mampu menghasilkan 6,7 liter nira sehari atau 47 liter seminggu. Di akhir masa penyadapan, sebatang pohon lontar dengan satu mayang masih dapat menghasilkan nira 2,25 liter per hari atau 15 liter seminggu. Selanjutnya, nira dibuat menjadi gula lempeng dan gula semut, di mana produksi Rote merupakan yang terbaik dan terbesar di NTT.
Gula nira kental merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi orang Rote. Bahkan, pada zaman penjajahan Belanda gula air digunakan sebagai pengawet daging yang akan dikirim ke Eropa, karena dagingnya bisa bertahan selama satu tahun tanpa pembusukan.
Selain diolah sebagai gula padat, nira juga dibuat minuman tuak atau sopie (minuman tradisional beralkohol). Gula air yang difermentasi dan disuling menjadi sopie bisa disuling lagi menjadi alkohol yang bisa digunakan untuk kepentingan medis.
Selain itu, orang Rote juga membuat cuka nira. Sayangnya, cuka nira hanya dibuat untuk keperluan memasak keluarga, karena waktu pembuatannya cukup lama sehingga tidak cepat menghasilkan uang dibandingkan memproduksi tua manis dan gula nira.
Penelitian Rosdiati Napitupulu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menyebutkan, nira lontar masih bisa dikembangkan untuk menciptakan kegiatan produktif yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, asam asetat, gliserin, dan nata de nira. Menurut dia, nata yang terbuat dari nira lontar lebih mudah dan cepat membentuk biomassa, dibandingkan dengan nata yang terbuat dari kelapa (nata de coco).
Nasib Penyadap Lontar
Manfaat pohon lontar dari akar hingga niranya yang begitu banyak, seharusnya dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Potensi produksi nira lontar di Rote dengan massa sadap 184 hari menghasilkan sekitar 726.84 liter. Apabila dikalikan jumlah pohon yang disadap sebanyak 5.326.400 pohon, total produksi nira 3.871.440.576 liter.
Hampir 4 miliar liter. Dengan jumlah itu, potensi ini merupakan komoditas strategis sebagai sumber bahan baku pengembangan agroindustri yang dapat menunjang pendapatan para penyadap lontar.
Namun, hingga saat ini pengolahan pohon lontar masih sebatas pengolahan tradisional masyarakat. Semuanya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Prospek pasar pun dilakukan semata-mata untuk kepentingan yang sama. Ironisnya, hingga kini belum ada penelitian khusus untuk mengetahui dampak positif dan negatif produksi tuak. Mekanisme pengolahan nira yang tradisional membuatnya kalah bersaing dengan minuman produksi modern yang ada di pasar.
Dengan budaya menyadap lontar sejak dulu, seharusnya orang Rote bisa memperoleh keuntungan ekonomi lebih besar, yang bisa juga menjamin kehidupan mereka.
Menyadap lontar sejak dulu menjamin tidak terputusnya rantai kerja para petani Rote, yang di musim kemarau mengolah lahan hanya mengharapkan air hujan. Namun, berbagai perkembangan dan tuntutan pasar yang semakin kompleks membuat petani yang hanya menyadap dan mengolah nira lontar secara tradisional, tidak mungkin bertahan hidup.
Peremajaan pohon lontar selama ini dibiarkan terjadi secara alamiah sebagai kebiasaan turun-temurun. Kesejahteraan petani penyadap lontar masih dianggap tercipta oleh mereka sendiri tanpa campur tangan siapa pun, termasuk pemerintah. Pola perekonomian orang Rote yang berdasar pada lontar seharusnya bisa menjamin peningkatan kesejahteraan hidup mereka.
Menyadap lontar seharusnya menjadi pilihan mata pencaharian yang bisa menjamin kehidupan orang Rote. Terputusnya keahlian menyadap lontar di kalangan muda Rote seharusnya menjadi refleksi bahwa mekanisme pengolahan yang bisa menjamin daya saing dan pasar hasil pengolahan lontar perlu dipikirkan, guna peningkatan kesejahteraan para penyadap.
Penulis : Wendy Bullan1
Sumber: 21.05.2011 – Derita Penyadap Nira di Pulau Rote
- Penulis adalah aktivis dan peneliti masyarakat, anggota Komunitas Riset INFID, dan tinggal di Kupang, NTT. [↩]
